searching for the extra from the ordinary

[Catatan Perjalanan] Gunung Padang: Dari Purnama sampai Fajar

Sunrise di Gunung Padang [Photo: Widie]

*Untuk mas Geger, mas Yoppie, bang Ucok, dan Bayu: terima kasih atas perjalanan yang menyenangkan & mencerahkan ini [31 Agustus - 2 September 2012]

 

Setelah sempat libur cukup lama dari acara jalan-jalan, akhirnya akhir Agustus lalu saya bisa kembali dolan. Agak mirip dengan perjalanan saya ke candi, kali ini saya mengunjungi situs megalitik Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat.

Gunung Padang adalah sebuah situs megalitik yang akhir-akhir ini sedang banyak diperbincangkan. Selain karena struktur dan konstruksinya yang menakjubkan, juga karena situs ini masih menyimpan banyak pertanyaan—umurnya, tujuan dan fungsi pembangunannya, dan masih banyak lagi pertanyaan seputar sejarahnya. Yang jelas, situs ini merupakan bukti peninggalan sebuah peradaban besar di masa pra-sejarah dahulu. Tentang peradabannya sendiri, hingga saat ini penelitian untuk mengungkap sejarah situs ini masih terus berlangsung, sehingga masih banyak informasi baru yang berkembang seputar tempat ini.

Tangga batu naik ke situs [Photo: Andreas Siagian]

Batuan Besar & Punden Berundak

Gunung Padang sendiri sebenarnya adalah sebuah bukit berketinggian sekitar 885mdpl—terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Situs ini merupakan bukti peninggalan kebudayaan Megalitikum—dari bahasa Yunani megas (besar) dan lithos (batu)—dan diperkirakan sudah ada sejak 4500 tahun Sebelum Masehi.

Hasil penelitian dan sejumlah berita menyebutkan bahwa struktur bangunan situs Gunung Padang ini memiliki kemiripan dengan situs Machu Picchu di Peru. Situs Gunung Padang yang memiliki luas area sekitar 900 meter persegi ini terbentuk dari batuan andesit yang mayoritas berbentuk poligonal (bersudut lima). Konstruksi keseluruhan bangunan sendiri berupa punden berundak dan terdiri dari teras-teras, yang jika dilihat dari kejauhan akan tampak seperti piramida.

Bebatuan besar di Gunung Padang, dengan Gunung Gede sebagai latar belakang [Photo: Widie]

Situs Megalitikum Gunung Padang sebenarnya sudah diketahui keberadaannya sejak awal abad ke-20—sekitar tahun 1914 atau 1915—namun baru mulai diteliti sejak tahun 1980an. Hingga kini, proses ekskavasi untuk mengungkap keseluruhan struktur situs ini masih berlanjut; diberitakan pula bahwa hasil penelitian terbaru menemukan kemungkinan adanya konstruksi bangunan lain di bawah (dengan kata lain di dalam) situs tersebut.

Sebagian besar batuan yang menyusun bangunan situs ini sudah ambruk karena berbagai sebab, namun masih ada beberapa bagian yang tampak cukup jelas—jajaran batu besar yang seperti membentuk pagar, susunan tangga naik ke teras, serta pembatas yang berfungsi sebagai ‘gerbang’ masuk teras.

Dua buah batu besar tegak yang berfungsi sebagai ‘gerbang’ masuk teras [Photo: Widie]

Pak Nanang, juru kunci situs Gunung Padang, menyebutkan bahwa tangan manusia juga menjadi salah satu penyebab ambruknya sebagian konstruksi bangunan di situs tersebut. Dahulu, sebelum diketahui menyimpan peninggalan kebudayaan Megalitikum, bukit Gunung Padang adalah tempat masyarakat setempat mencari kayu. “Jika penebangan dilakukan sembarangan, saat pohon tumbang, akarnya ikut menarik bebatuan di bawahnya sehingga konstruksi batuan tersebut runtuh,” demikian beliau menjelaskan.

Dua buah batu besar tegak yang berfungsi sebagai ‘gerbang’ menuju teras. [Photo: Andreas Siagian]

Bilangan Lima, Simbol & Instrumen Batu

Selain struktur dan konstruksi bangunannya, hal lain yang menarik di situs Gunung Padang adalah bahwa situs ini banyak berkaitan dengan bilangan lima—yang dianggap sebagai angka penting bagi masyarakat Sunda kuno yang mendiami wilayah sekitarnya.

Teras pertama [Photo: Andreas Siagian]

Teras ketiga [Photo: Widie]

Pertama, keseluruhan situs Gunung Padang ini terdiri dari lima teras—teras pertama (paling bawah) adalah teras paling luas; semakin ke atas, luas teras semakin mengecil/mengerucut. Lokasi Gunung Padang sendiri berada di tengah pegunungan—dikelilingi oleh lima buah gunung (Pak Nanang sempat menyebutkan nama kelima gunung tersebut—sayangnya saya lupa).

Teras kelima [Photo: Widie]

Selain itu, jika menghadap ke Utara, maka di depan kita juga akan terhampar pemandangan lima buah gunung. Dengan kata lain, situs Megalitikum Gunung Padang ini dibangun dengan berorientasi pada kelima gunung tersebut. Di antara kelima gunung yang tersebut, yang bisa saya ingat namanya adalah Gunung Gede, Pangrango, dan Pasir Pogor.

Pemandangan Gunung Gede [Photo: Widie]

Hal lain yang menarik adalah adanya banyak marking (tanda) pada sejumlah bilah batu yang berserakan di area situs tersebut. Ada yang berupa garis, kujang, dan telapak harimau. Belum diketahui bagaimana tanda-tanda tersebut digoreskan pada batuan keras tersebut, namun satu hal yang jelas adalah bahwa masyarakat yang membangun situs Gunung Padang itu sudah mengenal simbologi—yang kemungkinan besar memiliki makna tertentu.

Beberapa marking di bebatuan-kujang, telapak kaki, dan telapak harimau [Photo: Andreas Siagian]

Mengenai umur situs tersebut, Pak Nanang menuturkan,”Hasil penelitian menunjukkan bahwa batuan tertua justru ditemukan di teras kelima atau teras tertinggi, bukan di teras pertama.” Dengan kata lain, ada kemungkinan teras-teras tersebut dibangun mulai dari yang tertinggi, baru kemudian berangsur turun ke teras-teras di bawahnya.

Oh, masih ada lagi; di teras pertama, terdapat juga bebatuan yang ternyata akan menghasilkan lima nada berbeda jika dipukul/diketuk, termasuk sebuah batu besar berbentuk kotak yang menghasilkan suara seperti gong. Nada yang dihasilkan bebatuan ini selaras dengan tangga nada pentatonis Sunda, yaitu da-mi-na-ti-na. Keberadaan batuan ‘bernada’ ini memunculkan dugaan bahwa salah satu fungsi situs tersebut adalah sebagai teater musikal di jaman purbakala.

Beberapa batuan bernada di teras pertama [Photo: Andreas Siagian]

Untuk Apa?

Hingga kini, belum ada kesimpulan pasti dan lengkap tentang sejarah situs Gunung Padang—latar belakang, metode pembangunan, maupun fungsinya. Pak Nanang sendiri menyebutkan bahwa ada kemungkinan situs Gunung padang ini di masa lampau merupakan tempat berkumpul/bertemunya orang-orang penting (petinggi, tetua, atau tokoh penting lainnya).

Menjalang senja di Gunung Padang [Photo: Widie]

Beberapa artikel dan berita juga menyebutkan kemungkinan bahwa situs Gunung Padang ini merupakan tempat pemujaan. Apa yang dipuja? Bisa jadi kekuatan alam, bisa pula leluhur. Anggapan ini sepertinya berdasar pada nama Gunung Padang itu sendiri—pa (tempat), da (besar/agung/raya), hyang (eyang/moyang/leluhur agung). Artinya kurang lebih “tempat agung para leluhur” atau “tempat para leluhur agung”.

Selain itu, Gunung Padang juga dianggap sebagai tempat mencari pencerahan; hal ini berdasarkan pada kata padang (terang/cerah). “Memang ada cukup banyak pendatang yang datang ke Gunung Padang untuk berdoa—mencari pencerahan,” tutur Pak Nanang menambahkan.

Memang benar, lepas tengah malam saat menginap di area situs tersebut, saya sempat naik ke teras kelima dan di sana saya mencium aroma dupa/kemenyan. Saya sendiri tidak tahu siapa yang membakar dupa; sepertinya ada yang baru saja berdoa di teras tertinggi itu.

Yang jelas, selama semalam berada di Gunung Padang, tidak ada sedikitpun kesan seram apalagi angker. Justru, yang terasa adalah tenang, haru, dan damai. Saya sendiri tidak tahu bagaimana mengungkapkannya—seperti pulang ke rumah nenek setelah sekian lama tidak bertemu, barangkali. :)

 

Purnama, Gunung Gede, Fajar

There is no such thing as coincidence.

Saya suka, dan sedikit banyak percaya, pada kalimat itu. Sepertinya ada terlalu banyak ‘kebetulan’ yang kami (saya dan teman-teman) temui selama semalam berada si Gunung Padang.

Purnama di Gunung Padang [Photo: Widie]

Pertama, kebetulan malam itu purnama penuh, sehingga kami bisa menyaksikan keindahan malam diterangi cahaya bulan. Kebetulan juga, langit sangat cerah sehingga siluet bebatuan di sekitar teras keempat (dekat balai/pendopo tempat kami menginap) dan kelima tampak jelas. Kebetulan lagi, salah seorang dari kami berlima berulang tahun hari itu (daripada saya diomelin, lebih baik nama pihak yang bersangkutan tidak saya sebutkan :D ) sehingga bisa dirayakan (atau setidaknya diingat) di sebuah tempat yang sangat indah dan menakjubkan.

Sunrise di Gunung Padang [Photo: Widie]

Itu saja? Oh, tidak. Pagi harinya, kami juga disuguhi pemandangan cantik fajar yang naik di balik perbukitan. Sekitar pukul 7 pagi, saat kabut mulai menyingkir, figur Gunung Gede dan pangrango bisa terlihat jelas di Utara—sama seperti saat matahari terbenam tak berapa lama setelah kami sampai di puncak situs. Menurut Pak Nanang, biasanya Gunung Gede tidak terlihat. Kalaupun terlihat, seringkali hanya samar saja. Tetapi hari itu, kami bisa puas memandangi Gunung Gede. Kebetulan?

 

Nyepur, Ngangkot, Ngojek, Ngos-ngosan

Nah, setelah cerita tentang Gunung Padang, sekarang saya ingin cerita tentang perjalanannya sendiri.

Sebenarnya ada cukup banyak teman di Jogja yang berminat untuk berangkat bersama-sama ke Gunung Padang. Karena satu dan lain hal, akhirnya ‘hanya’ ada lima orang yang berangkat. Dari Jogja, saya berangkat berdua dengan mas Geger; mas Yoppie dan Bayu menyusul dari Bandung, sementara bang Andreas ‘Ucok’ menyusul dari Bogor.

Dari Jogja, kami nyepur alias naik KA—berangkat dari Stasiun Lempuyangan hari Jumat (31 Agustus 2012) pukul 8.30 malam dan sampai di Stasiun Padalarang sekitar pukul 8 pagi hari berikutnya. Dari Padalarang, perjalanan disambung dengan KA lokal ke Stasiun Cianjur. Dari Stasiun Cianjur, barulah kami ngangkot ke Pasar Warungkondang—sekitar 15 menit dari stasiun.

Tiket KA Jogja-Padalarang dan Padalarang-Cianjur [Photo: Widie]

Namanya juga perbukitan, letak situs Gunung Padang jauh dari kota. Dari Warungkondang, kami ngojek ke situs Gunung Padang. Jarak antara Warungkondang dan situs Gunung Padang sekitar 20km—perjalanan dengan ojek memakan waktu kurang lebih 1 jam. Ada banyak pemandangan indah di sepanjang perjalanan lewat perbukitan—lembah dan perkebunan teh yang terhampar hijau, misalnya. Sayangnya, sebagian besar jalan bukit menuju Gunung Padang dalam kondisi rusak.

Kami sampai di Gunung Padang menjelang tengah hari. Di sana, mas Yoppie dan Bayu sudah menunggu. Tak berlama-lama, kami langsung mendaki anak tangga dari batu yang menuju ke area situs. Ada dua jalur tangga menuju area situs—sebelah kiri merupakan anak tangga dari batuan alami yang merupakan bagian asli situs tersebut (ada papan bertuliskan “Jalur Peziarah”), sementara sebelah kanan adalah jalur baru yang dibuat lebih landai untuk memudahkan anak-anak atau pengunjung berusia lanjut. Jalur peziarah yang kami ambil memang lebih menanjak, tetapi lebih dekat karena tidak perlu memutar. Walau jalurnya pendek, tetap saja ngos-ngosan saat mendakinya—setidaknya saya :P Bang Ucok sendiri baru sampai ke puncak situs menjelang senja.

Pak Nanang memberikan penjelasan kepada mas Geger dan Bayu [Photo: Widie]

Tips

*Udara malam di Gunung Padang tidak terlalu dingin, tetapi sebaiknya tetap bawa jaket atau selimut—udara baru terasa dingin menjelang dini hari sebelum matahari terbit.

*Jika ingin menginap, ijinlah terlebih dahulu pada pengurus situs—mereka memakai udheng (kain batik untuk menutup kepala) sehingga mudah dikenali/dicari.

*Ada sebuah balai/pendopo—di dekat teras keempat—dan sebuah gardu pandang—di dekat teras kelima—sehingga tenda bisa dibilang tidak perlu. Sesuai saran
Pak Nanang, kami menginap di balai karena lebih hangat dan lebih terlindung dari dinginnya angin.

*Bawa bekal makanan & minuman secukupnya—warung di balai hanya buka pada jam resmi kunjungan (09.00 – 16.00). Baik juga jika membawa kompor portabel untuk memasak air atau makanan.

*Jaga kebersihan—ada banyak tempat sampah disediakan di beberapa sudut situs, jadi jangan buang sampah sembarangan; pengurus akan mengangkut sampah tersebut setiap sore setelah jam kunjungan.

4 responses

  1. cantik wiiid….kombinasi antara gambar yang tajam, narasi yang ngalir, dan informasi yang banyaak…trims yak! Kudune suk gawe neh acara ngene ki ben ana cerita aku neh hehe…

    September 12, 2012 at 1:37 pm

    • siapp,

      tinggal kontak aja nek mau ke Jogja, kita agendakan traveling [lagi] ^^

      September 13, 2012 at 12:43 am

  2. Pingback: Posts of the Week #4 (dan #3) | KOLOR INI

  3. Pingback: Posts of the Week #4 (dan #3) | KOLOR INI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers