searching for the extra from the ordinary

Extraordinary enough!

Life is just ordinary if you don't make it extraordinary.

Latest

Kecak – Legong Kurusetra

The whole performance was performed by “Sekar Jepun” Balinese Dances Community at Sanata Dharma University’s Auditorium, 27 November 2016

The Backstage

The Backstage

The Backstage

The Backstage

The Backstage

The Backstage

The Backstage

The Backstage

Pendet Dance

Pendet Dance

img_9702

Baris Dance

Baris Dance

img_9753

Baris Dance

Baris Dance

Baris Dance

Baris Dance

Topeng Tua Dance

Topeng Tua Dance

 

Topeng Tua Dance

Topeng Tua Dance

Manuk Rawa Dance

Manuk Rawa Dance

Manuk Rawa Dance

Manuk Rawa Dance

Manuk Rawa Dance

Manuk Rawa Dance

Topeng Asrawijaya Dance

Topeng Asrawijaya Dance

Topeng Asrawijaya Dance

Topeng Asrawijaya Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

img_0020 img_0022 img_0036 img_0046 img_0068 img_0079

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Kecak-Legong Kurusetra Dance

Prewedding Photos: Mia & Andika

Lately, I’ve been consumed by my work as a translator. Still, there’s always time for good friends.

So, one of my best friends (to be honest, one who’s more like a brother to me) was about to get married last year-end. As I’ve promised to make him his prewedding photos, we managed to steal some time between their tight schedule (all round the way between Jakarta – Semarang – Ternate – Jogja). And here are the photos. The holy matrimony itself took place on December 12th, 2015. Lovely couple, happy couple, aren’t they?🙂

Photo credit:

Photographer: widianawidie

MUA: Trisa Cintani

Assistants: Dita Pranoto & Bonaventura Andhiko Aji

Digital Retouch: Andreas Rahadi

 

Location: Warung Kopi Lidah Ibu, Yogyakarta

IMG_5546

ffIMG_5690

ffIMG_5734

ffIMG_5764

ffIMG_5789

ffIMG_5796

edIMG_5909

edIMG_5974

edIMG_6037

edIMG_6068

 

After the Rain

Been quite a long time since I shared the last post. Work has been taking much of my time lately. Whew.

 

Anyway, it’s rainy season now. Rather late, but then rain falls hard almost every day.

I happen to have several Crinum latifolium (pink-striped Crinum lily) in my garden, which blooms only when rainy season reaches its peak. They usually bloom right after heavy rain. The view? Magnificent! Sadly I haven’t got my DSLR camera with me for a while, so I had to trust my smartphone to do the job.

Let me share some of them, taken right after the rain.

P.S. All photos were taken using Xiaomi Redmi Note 2 Prime, with minor editing using ACDSee Pro

 

AfterTheRain

 


AfterTheRain (3)

 

AfterTheRain (4)

 

AfterTheRain (5)

 

AfterTheRain (6)

 

 

AfterTheRain (7)

AfterTheRain (2)

Things I Love are Things I Fear

Suka naik gunung tapi takut memanjat?

Bagaiman mau berkebun kalau takut ulat?

Takut keramaian, kok suka memotret panggung?

 

Ah, itu pertanyaan lama yang sudah terlalu sering saya tanyakan pada diri saya sendiri, dan hanya sedikit teman yang tahu. Mereka yang tahu pun, biasanya baru sadar setelah melihat saya tiba-tiba panik, cemas, atau bahkan lemas saat menemui hal-hal yang bagi saya menakutkan.

Yes, those things I fear the most are the things that I could easily find in my favorite places or activities.

Jadi akhirnya saya putuskan untuk sedikit bercerita tentang beberapa hal yang saya takuti, dan mungkin sedikit tentang cara saya menghadapinya—terlepas dari apakah akhirnya saya berhasil menghilangkan ketakutan itu sendiri atau tidak.

Phobia—menurut kamus, kata ini didefinisikan sebagai ‘an anxiety disorder characterized by extreme and irrational fear of simple things or social situations.’ Kenapa takut? Ya karena takut—pokoknya takut. Dan sialnya (atau justru untungnya?), seperti saya bilang tadi, hal-hal yang saya takuti itu justru paling mudah ditemui di tempat-tempat atau dalam aktivitas yang saya sukai.

 

seperti inilah tampang saya saat climacophobia kumat di jalur menuju Puncak Garuda, Gn. Merapi

seperti inilah tampang saya saat climacophobia kumat di jalur menuju Puncak Garuda, Gn. Merapi

Climacophobia

Phobia yang ini dianggap sebagai salah satu jenis phobia yang tidak biasa. Climacophobia sedikit banyak terkiat dengan acrophobia—ketakutan terhadap ketinggian—dan bathmophobia—ketakutan terhadap tangga/tanjakan. Bedanya terletak pada fokus ketakutannya; pengidap acrophobia takut berada di tempat tinggi, terlepas dari bagaimana ia bisa berada di tempat itu. Pengidap bathmophobia takut saat melihat tangga/tanjakan, terlepas dari apakah ia akhirnya benar-benar menapaki tangga/tanjakan itu sendiri. Nah, pengidap climacophobia lebih takut pada aktivitas memanjatnya itu sendiri—entah menapaki tangga, memanjat tebing, dan sebagainya.

Dulu awalnya saya kira saya takut ketinggian. Tetapi, beberapa kali saya berada di tempat yang tinggi (misalnya di lereng gunung atau di gedung tinggi) dan ternyata saya baik-baik saja. Takut jatuh sih iya, tapi saya tidak pernah sampai merasa panik atau cemas.

Kalau dibilang phobia ini mengganggu, ya mengganggu, terutama saat naik gunung. Hmm, well, I spend too many times working on my computer, so hiking mountain has been my favorite getaway.

Biasanya, saat pendakian malam, saya selalu berjalan sambil menunduk dan hanya memperhatikan langkah kaki saya saja. Saya bisa tiba-tiba muring-muring kalau teman yang di depan mengarahkan senter pada saya. Bukan kenapa-kenapa; kalau jalurnya terang, saya jadi ingat bahwa saya sedang berada di jalur tanjakan, dan nantinya saat harus memanjat, saya bisa langsung lemas.

Waktu mendaki Gunung Merapi tahun lalu, setengah pendakian kami habiskan melalui jalur lumut yang tidak terlalu menanjak, jadi saya bisa mencapai Pasar Bubrah dalam keadaan segar bugar (walau ngos-ngosan).  Paginya, melihat jalur dari Pasar Bubrah menuju puncak yang mau tidak mau harus dilalui dengan jalan memanjat, sebenarnya saya sudah parno duluan. Tapi karena penasaran, akhirnya saya nekat naik.

Di tengah jalur, yang mana saya lewati dengan pose macam cicak—nemplok di tebing dan merayap dengan dua kaki plus dua tangan—mulai lah kaki saya gemetar. Apalagi, ada sekelompok pendaki lain yang memanjat agak brangasan dan membuat banyak batu sebesar kepala orang pun beterbangan (saya nggak melebih-lebihkan, banyak batu yang memang seakan terbang, nggak cuma menggelinding. Duh!).

Walhasil, saya tertahan di satu titik, bersembunyi di bawah lindungan sebuah batu besar, tanpa bisa bergerak sama sekali. Kaki saya terlalu gemetar untuk bisa naik ataupun turun. Akhirnya, saya menghabiskan waktu hampir setengah jam di sana, menangis dan ngomel nggak jelas, sementara pacar saya (uhuk!) dan adik saya berusaha membesarkan hati saya. Memang, puncak tinggal sedikit lagi, paling lama lima belas menit. Tapi akhirnya saya lebih memilih untuk turun saja karena kepala saya mulai terasa berputar dan pandangan kabur (ini tanda-tanda vertigo mulai menyerang).

Di pendakian berikutnya pun, setengah tahun setelah itu, saya hanya mau sampai Pasar Bubrah saja—melihat kembali jalur dari Pasar Bubrah ke puncak, it’s still a big NO!

Hal yang sama juga terjadi waktu saya mendaki Gunung Rinjani. Saya keki berat saat melewati jalur yang disebut Bukit Penderitaan (ada juga yang menyebutnya Bukit Penyiksaan atau Bukit Penyesalan), pasalnya jalur bukit itu sangat curam sehingga saya pun melancarkan aksi cicak lagi. Apalagi, pendakian hanya dilakukan saat hari terang saja, sehingga keseluruhan jalur di depan mata bisa terlihat dengan jelas. Untungnya, di Rinjani ini vertigo tidak sempat menyerang.

Kadang, saat akan mendaki gunung, saya merasa khawatir kalau-kalau phobia ini akan muncul dan menyebabkan vertigo. Apalagi, saya mengidap darah rendah, yang membuat resiko vertigo semakin besar. Tapi ya sudahlah, the mountain is just too attractive to be despised for this phobia, or this vertigo.

 

Demophobia

Demophobia didefinisikan sebagai ketakutan terhadap keramaian. Dalam kasus saya, hampir semua jenis keramaian—pasar, festival atau pertunjukan, bahkan warung makan yang ramai—semakin ramai, saya semakin takut. Ketakutan ini kemungkinan besar berasal dari pengalaman masa kecil saya, karena saya pernah ‘hilang’ di tengah keramaian pasar akibat bandel dan malah berkeliaran sendiri. Waktu itu, saya hanya bisa menangis heboh (maklum, masih kecil) sampai Bapak Ibu saya menemukan saya. Sepanjang perjalanan dari pasar sampai rumah pun saya masih nangis, walau sudah dibujuk dengan segala jenis jajanan pasar yang biasanya membuat saya kalap, hhehe..

Secara umum, phobia ini tidak terlalu mengganggu; simptom yang paling sering muncul saat ketakutan saya merebak adalah panik dan cemas, yang biasanya ditandai dengan saya tidak bisa berhenti menoleh ke segala arah dan kehilangan fokus karena merasa tidak aman. Biasanya juga saya jadi mudah marah (walaupun memang dasarnya saya galak, hhaha) dan perilaku saya jadi serba tidak tenang. Masalahnya, saya adalah penggemar dan cukup aktif di fotografi panggung, sementara panggung hampir selalu penuh dengan keramaian. Kalau yang saya dokumentasikan adalah pentas tari atau teater, yang keramaiannya bisa dikatakan lebih “teratur”, paling banter saya akan merasa tidak tenang dan dag-dig-dug sepanjang acara.

Yang paling parah adalah saat bertugas sebagai official photographer di konser musik VOTE di Alun-alun Kidul Yogyakarta, pertengahan tahun 2012 yang lalu. Namanya pentas musik, apalagi yang tampil adalah band-band ternama di Indonesia, area pertunjukan penuh sesak; media pit pun penuh dengan orang-orang berkamera (terlepas dari peraturan bahwa hanya official photographer dan wartawan saja yang boleh berada di dalam batas media pit). Di tengah acara, saya mulai merasa hilang keseimbangan (nah, vertigo datang lagi!) dan sedikit mual. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya pun undur diri sebentar dan saya bertukar tugas dengan seorang rekan yang tadinya bertugas di backstage.

Selamat dari serangan panik dan cemas, di akhir acara saya harus kembali menghadapi gejala lain. Bintang utama konser tersebut adalah Slank, yang sudah diketahui memiliki massa dalam jumlah gila-gilaan. Saya juga tidak tahu bagaimana caranya, tetapi media pit tiba-tiba saja sudah penuh dan tidak ada ruang untuk bergerak bebas. Tambah lagi, para petugas kepolisian juga ikut mengisi media pit demi menjaga keamanan, mmembuat area yang sempit itu jadi semakin sempit.

Mengingat tugas, saya memaksakan diri untuk mengambil beberapa gambar, walau sambil menahan vertigo dan mual yang sedari tadi menyerang. Beberapa jepretan, saya tidak tahan lagi, dan akhirnya kabur mencari toilet umum terdekat. I eventually threw up there. Untungnya sudah ada beberapa foto yang saya ambil, sehingga akhirnya teman-teman yang lain meminta saya tinggal di backstage saja untuk menenangkan diri (dan menenangkan perut).

 

Enthomophobia

Nah, kalau yang ini, saya juga agak nggak yakin apa istilahnya. Saya takut banget sama ulat, dan ini dikategorikan sebagai entomophobia atau ketakutan terhadap serangga. Saya takut ulat, dari ulat sayur yang kata orang imut-imut sampai ulat bulu. Kalau melihat ulat bulu di depan langkah, saya bisa langsung njranthal dan ngibrit sejauh-jauhnya.

Pernah suatu kali teman saya menakut-nakuti saya dengan mengulurkan ulat bulu ke dekat saya. Mungkin maksudnya mau melatih saya supaya tidak terlalu takut sih. Eh, hasilnya, saya langsung lari, jongkok, terus nangis. Payah deh.

Selain ulat, saya juga takut kupu-kupu. Mungkin karena saya berpikir bahwa kupu-kupu juga asalnya dari ulat. Sudah sering saya ditertawai teman-teman lantaran langsung tiarap setiap kali ada kupu-kupu terbang di dekat saya. Mau orang bilang kupu-kupu itu cantik atau apa, buat saya tetap mengerikan!

Ketakutan yang satu ini memang tidak sampai mengakibatkan vertigo atau gejala fisik lain seperti climacophobia atau demophobia yang saya derita, tetapi cukup mengganggu saat saya sedang melakukan salah satu hobi saya—berkebun (ahem, biar kata kelakuan jauh dari cewek pada umumnya, saya juga suka menanam bebungaan dong). Selain langsung lari sampai nabrak orang atau apa saja yang ada di dekat saya, biasanya juga saya masih akan parno hingga beberapa jam setelah melihat ulat atau kupu-kupu. Paling parah, biasanya badan saya, terutama leher, akan tiba-tiba gatal sendiri seperti habis terkena ulat, walaupun kenyataannya saya sama sekali tidak bersentuhan dengan ulat itu.

Pernah juga saya sedang memindahkan bunga dari satu pot ke pot yang baru, dan langsung kaget karena ternyata di daunnya ada ulat. Pot langsung terlempar dari tangan, dan pecah berantakan. Untung tanamannya tidak rusak, huh.

Seperti climacophobia, saya juga sampai sekarang belum tahu kenapa saya takut banget sama ulat. Dan sampai sekarang saya belum bisa berusaha menekan ketakutan ini—boro-boro disuruh pegang ulat, ada yang nunjukin ulat di kejauhan saja bisa-bisa langsung saya gampar.

 

 

That’s it. Kadang saya juga sebel sendiri—kenapa sih di gunung harus memanjat, kenapa sih di kebun harus ada ulat, kenapa sih panggung harus ramai. Tapi, daripada ngomel nggak jelas juntrungannya, mungkin lebih baik saya terima saja keadaannya dan berusaha untuk tetap fokus—walau kadang susah. If any of you have some tips to overcome these phobias, I would be more than glad to let you tell me J

Legong Sang Kenya

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

“Legong Sang Kenya” was a Balinese dance performance presented by “Sekar Jepun” Balinese Dance Community, Yogyakarta.

The performance was held on Friday, 01 November 2013, taking place at Taman Budaya Yogyakarta (The Window of Yogyakarta). While presenting the dance “Legong Sang Kenya” as the main performance, the repertoire also includes several other dances, either the classic ones or the new-creation.

 

Baris Bandana Manggala Yudha

A heroic-themed dance based on the classic pattern of the Balinese dance Bebarisan. It depicts the Badung (Bandana) troops preparing for the Puputan Badung War.

The dance was choreographed by I Nyoman Catra in 1979, with I Nyoman Astita composing the music.

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

Jayarati

Jayarati is a new-creation dance portraying the transformation of character, from a calm, feminine woman to a manly gentleman. It is based on the the story of a princess, Galuh Candrakirana, who disguised as a man during her search for her lover, Panji Inu Kertapati.

The dance was created by Ni Kadek Rai Dewi Astini ini 2011 by the contribution from I Nyoman Cau Arsana who worked on the music.

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

Topeng Panglembar Keras

The dance represents the aggressive and tough characteristics of a patih or leader warrior. It symbolizes mankind’s spirit in living the life, which is represented through the tough, up-beat movements.

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

 

Legong Sang Kenya

The dance is an in-depth follow-up of Legong Maria (previously performed in 2011). Inspired by the figure of Mother Mary, the dance comes as a reflection of Mary’s spiritual experience and attitude which guides mankind to leave their lives on the Creator’s hands.

The dance also comes as an acculturation which includes Balinese, Javanese, and European culture. The title itself, Legong Sang Kenya, uses Javanese languange, which means “The Virgin”.

The concept of the dance came from Ni Luh Putu Rosiandani, which was then brought to the stage together with Ni Kadek Rai Dewi Astini as the choreographer and I Nyoman Cau Arsana as the music composer and director.

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

©widianawidie | 2013

©widianawidie | 2013

 

 

 

[Catatan Perjalanan] Segara Anak, Gn. Rinjani – Bukit Penderitaan demi Danau

Bahagia itu sederhana; tetapi tidak mudah.

Foto panoramis danau Segara Anak, Gn. Rinjani

Foto panoramis danau Segara Anak, Gn. Rinjani | ©widianawidie

*foto-foto di sini adalah hasil jepretan bergantian dari kamera anggota rombongan; mohon maaf jika ada beberapa foto yang tidak diingat siapa yang memotretnya*

Bahagia itu sesederhana duduk-duduk di tepi danau sambil menikmati secangkir kopi; memandang hamparan air kebiruan yang berkelip-kelip tertimpa cahaya matahari dengan ditemani semilir angin yang lewat di sela-sela pepohonan.

Sederhana, tetapi tidak segampang bayangan—apalagi jika danau yang diinginkan adalah Segara Anak. Dan itulah yang menjadi salah satu mimpi besar saya sejak kecil—melihat Segara Anak secara langsung.

Saya & Pak Uwi di Plawangan Sembalun, dengan latar belakang Segara Anak | ©ade sandy wijaya

Saya & Pak Uwi di Plawangan Sembalun, dengan latar belakang Segara Anak | ©ade sandy wijaya

Danau di Atas Gunung

Pertama kali saya tahu tentang Segara Anak adalah dari kakak saya yang suka naik gunung; dia sering menceritakan keindahan danau itu dan tak lupa menambahkan bahwa Segara Anak adalah danau—atau mungkin bahkan tempat—terindah yang pernah dikunjunginya. Waktu itu saya sama sekali tidak tahu di mana letak Segara Anak, bagaimana cara ke sana, apalagi seberat apa jalur yang harus dilaluinya; pokoknya saat itu saya langsung terbius dan tidak berhenti bermimpi untuk melihatnya juga dengan mata saya sendiri.

Sekarang, hampir lima belas tahun setelah tahu tentang Segara Anak, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di tepi danau itu. Dan memang benar, Segara Anak sangat cantik dan indah; hanya terpikir satu kata untuk menggambarkannya—majestic!

Segara Anak adalah danau vulkanik yang terbentuk di kaldera Gunung Rinjani, Pulau Lombok. Nama Segara Anak diberikan bagi danau ini karena memang tampak seperti lautan kecil, dengan luas area sekitar 11,3 km2 dan kedalaman mencapai 190 m. Tidak seperti kebanyakan danau lain yang relatif dapat dicapai dengan mudah, Segara Anak membutuhkan usaha lebih keras karena terletak pada ketinggian 2.008 mdpl di tengah kepungan perbukitan tinggi (seorang  teman saya yang adalah mountain guide menyebutkan bahwa Segara Anak terletak pada ketinggian sekitar 2.600 mdpl)—intinya, kita harus mendaki bukit-bukit yang membentuk Gunung Rinjani untuk bisa mencapai danau ini.

Pak Uwi, saya, & mas Ade di Pelabuhan Padangbai, Bali, sebelum menyeberang | ©yonas christyawan

Pak Uwi, saya, & mas Ade di Pelabuhan Padangbai, Bali, sebelum menyeberang | ©yonas christyawan

Selain karena lokasinya yang jauh dari tempat tinggal saya, Yogyakarta, jalur pendakian  Gunung Rinjani dengan padang sabana yang luas juga membutuhkan waktu pendakian berhari-hari. Akhirnya, saya dan kelima teman lain pun menghabiskan waktu 7 hari 6 malam di Gunung Rinjani. Sebenarnya bisa saja mendaki dalam waktu lebih singkat, tetapi sejak awal memang kami berniat piknik ceria dan sebisa mungkin menikmati perjalanan (dengan kata lain, jalan pelan-pelan ala keong—terutama saya, hhaha
).

Di antara kami berenam, mungkin hanya saya yang punya tujuan berbeda—saya tidak “mengejar” untuk mencapai puncak Rinjani; hanya Segara Anak yang ada di pikiran saya sejak awal. Keinginan untuk mencapai puncak itu memang ada, tetapi saya memang bukan pendaki yang selalu ingin mencapai puncak tiap gunung yang dijelajahi—saya hanya orang yang suka klayapan 😀

Di atas ferry menuju Lombok | ©yonas christyawan

Di atas ferry menuju Lombok | ©yonas christyawan

Senja di lepas pantai Pelabuhan Padangbai, Bali | ©widianawidie

Senja di lepas pantai Pelabuhan Padangbai, Bali | ©widianawidie

Hari 1 – Sabtu, 17 Agustus 2013: Pos I (Sabana)

Setelah menghabiskan waktu 2 hari dari Yogyakarta ke Lombok, pendakian pun kami mulai pada hari Sabtu, 17 Agustus 2013. Tim kami terdiri dari 4 cowok (Sempal, mas Ade, Pak Uwi, Yonas) dan 2 cewek (Tania dan saya)—ada yang dari Yogyakarta, ada pula yang jauh-jauh datang dari Palembang atau menyusul dari Surabaya.

Pemandangan di jalan menuju basecamp Sembalun | ©tania norika

Pemandangan di jalan menuju basecamp Sembalun | ©tania norika

Pukul 14.30 WITA kami mulai mendaki dari batas kawasan ladang penduduk. Jalur yang kami lalui terbilang masih ringan karena berupa padang sabana yang tidak terlalu menanjak. Namanya piknik santai, baru beberapa menit berjalan saja kami memutuskan untuk istirahat sebentar dan makan siang, baru kemudian kembali melanjutkan perjalanan.

Menyusuri sabana | foto dari kamera Tania

Menyusuri sabana | foto dari kamera Tania

Mumpung di keindahan sabana, mari bergaya!

Mumpung di keindahan sabana, mari bergaya!

Pos I akhirnya kami capai sekitar pukul 19.00 WITA. Di peta trek yang terpampang di basecamp Sembalun, sebenarnya tertera bahwa jarak tempuh dari basecamp hingga Pos I adalah sekitar 3,5 jam—nyatanya, kami butuh waktu hampir 5 jam! Tidak heran, karena estimasi waktu yang diterakan dalam peta tersebut dibuat berdasarkan kecepatan langkah dan tolok ukur warga setempat atau porter yang, menurut kami, kecepatannya sudah seperti dewa😀

Selesai mendirikan tenda, kami pun langsung mengeluarkan segala persediaan makanan dan alat masak, kemudian segera bersiap mengisi perut. Hawa tidak (belum?) terlalu dingin—satu jaket saja sudah cukup untuk melindungi dari kedinginan.

Tenda kami di Pos I

Tenda kami di Pos I

Gunung Rinjani dilihat dari Pos I | ©widianawidie

Gunung Rinjani dilihat dari Pos I | ©widianawidie

Oh ya, berjalan dari basecamp hingga ke perbatasan sabana membutuhkan waktu hampir 2 jam. Namun, ada jalan pintas yang bisa menghemat waktu hingga 1 jam karena langsung menyambung dari jalan desa ke jalur masuk sabana. Jalur pintas ini bisa dilewati melalui Desa Bawaknau. Jika ingin mengambil jalan pintas ini, sebaiknya tanyakan kepada warga sekitar, karena jalur ini sebenarnya bukanlah jalur pendakian umum; hanya sering dilewati penduduk untuk mencari kayu/rumput😉

Hari 2 – Minggu, 18 Agustus 2013: Pertengahan Pos III – Plawangan Sembalun

Keesokan harinya kami mulai lanjut bergerak sekitar pukul 10.30 WITA. Target kami untuk hari kedua adalah langsung mencapai camp/rest area Plawangan Sembalun. Team leader kami, Sempal, menyarankan untuk mendirikan tenda sedikit di atas Plawangan Sembalun, dengan pertimbangan untuk menghemat waktu dan jarak bagi teman-teman yang ingin ke puncak.

Berjalan super santai dan penuh tawa, Pos II dapat kami capai dalam waktu kurang lebih 45 menit. Di Pos II yang dinamai Tengengean ini, ada sumber air kecil yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi ulang persediaan air. Area sekitar pos ini masih berupa sabana, dengan sedikit pepohonan mulai terlihat di beberapa titik.

Fajar di Pos I | ©tania norika

Fajar di Pos I | ©tania norika

Tania (kiri) & saya (kanan) di Pos II Tengengean

Tania (kiri) & saya (kanan) di Pos II Tengengean

Setelah beramah tamah dengan sesama pendaki lain, kami melanjutkan perjalanan sekitar pukul 12.30 WITA. Jalur mulai menanjak pelan walau masih didominasi medan landai, sementara barisan pepohonan di kiri kanan jalur pun tampak lebih rapat. Pos III Sembalun kami capai dalam waktu kurang lebih 2 jam. Kami tidak banyak istirahat lama, mengingat target yang ingin kami capai masih jauh.

Pos III Sembalun

Pos III Sembalun

Lepas dari Pos III Sembalun, jalur mulai menanjak tajam, dengan mayoritas strukturnya berupa pasir dan rumput. Kadang ada juga bagian jalur yang sangat curam sehingga perlu sedikit memanjat. Saat itu, ada satu bukit tepat di atas Pos III yang baru saja mengalami kebakaran—seminggu sebelum kami datang, menurut cerita porter yang kami temui di jalan. Kebakaran tersebut disebabkan oleh kaleng gas yang meledak—sepertinya ada pendaki yang ceroboh saat membakar sampah. Bekas kebakarannya cukup luas; pohon-pohon dan rumput yang sudah hangus mengisi pemandangan di sepanjang jalur di bukit tersebut. Sayang sekali😩

Menjelang senja, kami (terutama saya, pastinya) mulai kelelahan. Langkah sudah mulai tidak teratur, apalagi napas. Barangkali karena tidak makan siang, maag saya pun kambuh, membuat langkah tertahan dan pandangan agak berputar. Mas Ade juga mengalami sedikit gangguan pada pergelangan kakinya, sehingga langkahnya tidak lagi secepat sebelumnya.

Melihat kondisi yang sudah menurun, akhirnya Sempal memutuskan untuk segera mencari tempat landai untuk mendirikan tenda. Beruntung, di tengah jalur—tepat sebelum bukit yang paling terjal dan curam—kami menemukan tempat yang cukup layak untuk istirahat.

Sisa bukit yang terbakar | ©tania norika

Sisa bukit yang terbakar | ©tania norika

Berjalan di tengah kabut | ©yonas christyawan

Berjalan di tengah kabut | ©yonas christyawan

Puncak Rinjani dilihat dari tempat kami berkemah di hari 2 | ©tania norika

Puncak Rinjani dilihat dari tempat kami berkemah di hari 2 | ©tania norika

Pemandangan di sisi lain kemah kami | ©tania norika

Pemandangan di sisi lain kemah kami | ©tania norika

Hari 3: Senin, 19 Agustus 2013 – Bukit Penyesalan, Penderitaan, Penyiksaan—Ah Sudahlah


Perjalanan hari ketiga kami mulai sekitar pukul 11.30 WITA. Dari tempat kami mendirikan tenda, puncak Rinjani terpampang jelas di salah satu sisi. Di sisi lain, kami disuguhi pemandangan berbeda—awal jalur yang tampak sangat menanjak hingga seakan tidak ketahuan mana ujungnya.

Untuk mencapai Plawangan Sembalun (bibir kawah/crater rim), kita harus mendaki melalui 7 bukit—saya sendiri tidak tahu kami sudah mendaki berapa bukit. Dan rupanya, tempat kami mendirikan tenda tersebut tepat berada di bawah “pintu” menuju 2 bukit terakhir yang tanjakannya membuat saya berulang kali minta ampun.

Saya di awal jalur "Bukit Penderitaan" | ©tania norika

Saya di awal jalur “Bukit Penderitaan” | ©tania norika

Karena langkah saya paling lambat, maka saya pun “dititahkan” untuk berjalan paling awal bersama Tania dan Yonas. Pasir dan debu memenuhi sepanjang jalur ini, terutama di bukit terakhir. Sebagian besar pendaki mengakui bahwa jalur di bukit ini memang paling berat, sampai-sampai bukit ini disebut Bukit Penyesalan. Ada juga yang menamai Bukit Penderitaan atau Bukit Penyiksaan. Ah sudahlah, yang jelas saya sampai hampir nangis saat mendaki bukit ini😩

Jalur "Bukit Penderitaan" dilihat dari jauh (atas) & dekat (bawah) | ©tania norika

Jalur “Bukit Penderitaan” dilihat dari jauh (atas) & dekat (bawah) | ©tania norika

Rombongan pertama sampai di Plawangan Sembalun sekitar pukul 14.00 WITA lewat beberapa menit. Dari jauh sudah tampak banyak tenda dan pendaki bersliweran—mayoritas bule. Lega sekali rasanya sampai di Plawangan Sembalun, namun sayangnya perasaan kami terganggu dengan banyaknya sampah yang berserakan di sepanjang area perkemahan di ketinggian sekitar 3300 mdpl ini—dari tissue, bungkus makanan, kaleng, hingga botol bir—what the
!!!

Rombongan kedua yang terdiri dari Sempal, Pak Uwi dan mas Ade menyusul kami sekitar pukul 15.30 WITA. Sementara sebagian mendirikan tenda dan menyiapkan makanan, sebagian lagi turun ke sumber mata air yang berjarak tempuh sekitar 30 menit untuk mengisi ulang persediaan air. Tidak usah khawatir, walau mentah, air dari sumber tersebut sangat jernih dan segar😉

Barangkali karena terlalu banyak menghirup debu dan terkena panas matahari, menjelang malam saya, Tania, dan mas Ade mulai terserang demam. Sakit demam di kota saja sudah nggak enak, apalagi di gunung, di ketinggian lebih dari 3000 mdpl pula! Tidak hanya itu saja, sejak senja angin bertiup luar biasa kencang, dan semakin malam semakin kuat. Ternyata hari itu sudah mendekati tanggal 15 dalam sistem penanggalan Jawa—mendekati bulan purnama. Ini sih bukan “cuma” angin—ini badai!😩

Memang, saya hampir menangis ketika mendaki Bukit Penderitaan, tetapi saya baru benar-benar mewek ketika melihat danau Segara Anak dari ketinggian Plawangan Sembalun—biru pekat, dikelilingi bebukitan, dengan sesekali tertutup awan. Ini bukan tangis putus asa atau jengkel; saya terharu…

Segara Anak dilihat dari Plawangan Sembalun, menjelang senja | ©tania norika

Segara Anak dilihat dari Plawangan Sembalun, menjelang senja | ©tania norika

Hari 4: Selasa, 20 Agustus 2013 – Jalur E Itu


Menjelang dini hari, semua anggota tim kecuali saya dan Sempal memutuskan untuk summit attack, dengan jarak tempuh dari Plawangan Sembalun ke puncak sekitar 4 jam. Saya memilih untuk tidak ikut ke puncak—selain karena masih demam, saya juga lebih ingin menyimpan tenaga untuk menikmati danau di hari selanjutnya, karena memang danau itulah tujuan utama saya.

Setelah teman-teman mencapai puncak, hari keempat tersebut kami lalui dengan tidak banyak beraktivitas—hanya masak-memasak dan ngobrol dengan beberapa orang pendaki yang mendirikan tenda persis di sebelah kami (yang pada akhirnya beberapa orang dari mereka pulang bersama kami ke Jogja).

Teman-teman yang sudah mencapai puncak bercerita bahwa jalur menuju puncak memang sangat berat; selain karena medannya yang mayoritas berupa tanjakan pasir dan kerikil, juga karena angin yang bertiup sangat kencang. Beberapa pendaki tetangga bahkan mengakui bahwa mereka harus tiarap dan merayap demi mencapai puncak.

Jika dilihat dari arah Sembalun, di jalur menuju puncak, tepatnya beberapa puluh meter sebelum puncak, akan terlihat sebuah batu besar yang kemudian diikuti dengan jalan pasir yang bentuknya menyerupai huruf E—jalur E inilah yang katanya paling ya ampun. Salah seorang pendaki tetangga kami bahkan bercerita bahwa dia terpaksa mengurungkan niat untuk mencapai puncak dan memilih turun kembali ke Plawangan Sembalun lantaran tidak sanggup menapaki jalur E tersebut. “Padahal tinggal dikiiitttt lagi, tapi gue udah nggak sanggup—itu huruf E bikin fobia ketinggian gue langsung kumat!” begitu cerita Mbak Dinda, rekan pendaki tersebut.




Di atas awan | ©tania norika

Di atas awan | ©tania norika

Hari keempat itu, kami juga berencana menunggu 4 orang teman kami yang tergabung dalam Tim Jelajah 2013 dari Mapasadha—Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Sanata Dharma. Regu yang terdiri dari 3 orang cowok dan 1 orang cewek tersebut mulai mendaki sehari setelah kami, yaitu pada hari Minggu, 18 Agustus. Hanya saja, mereka tidak melalui jalur Sembalun dan turun melalui Senaru atau sebaliknya—sebagaimana biasanya dipilih oleh kebanyakan pendaki; mereka naik melalui Torean, yang masih merupakan jalur penduduk dan bukan jalur pendakian umum.

Kira-kira pukul 7 malam waku setempat, keempat rekan kami tersebut (Audrey “Celnah”, Arief “Jalang”, Filipus Bhakti “Kocor”, dan Bram “Kosak”) sampai di Plawangan Sembalun dan langsung bergabung mendirikan tenda di lahan yang masih kosong dan lebih terlindung dari angin. Menurut rencana yang telah disusun sejak awal, mereka akan langsung summit attack dini hari itu juga.

Sambil melepas lelah di tenda kami, rekan-rekan Tim Jelajah menguraikan bahwa jalur Torean merupakan jalur singkat—dapat dicapai dalam waktu pendakian satu hari saja—namun tanjakannya gila-gilaan. Jika ingin mencapai puncak dengan mendaki dari jalur tersebut, maka rute yang akan dilewati adalah melalui danau Segara Anak dulu baru kemudian naik ke Plawangan Sembalun.

Segara Anak dilihat dari jalur menuju puncak, pagi hari | ©tania norika

Segara Anak dilihat dari jalur menuju puncak, pagi hari | ©tania norika

Hari 5: Rabu, 21 Agustus 2013 – Fullmoon at The Lake!

Dini hari di hari kelima, rekan-rekan Tim Jelajah berangkat untuk mencapai puncak pada pukul 4 pagi. Selain keempat rekan Tim Jelajah, Sempal juga menyusul sekitar pukul 5 pagi.  Dari keempat orang anggota Tim Jelajah, dua orang sukses mencapai puncak yaitu Jalang dan Kosak, sedangkan Celnah dan Kocor memutuskan untuk turun kembali sebelum melalui jalur E, lagi-lagi, karena kencangnya angin pagi itu.

Tidak begitu lama setelah semua anggota rombongan turun dari puncak, kami langsung membongkar tenda dan membereskan ulang semua peralatan karena harus mengejar waktu untuk turun ke danau. Walau jalur yang harus ditempuh untuk menuju ke danau cenderung landai bahkan menurun, tetap saja waktu yang dibutuhkan tidak sebentar—kurang lebih 5 jam.

Sekitar pukul 15.00 WITA, kedua rombongan yang akhirnya menjadi satu pun segera melanjutkan perjalanan ke danau. Berhubung hepi karena akan menuju danau, sepanjang jalan pun saya bisa cengengesan, hehehe
 Dua jam pertama, jalur yang harus kami tempuh berupa bukit batu terjal, baru kemudian menyeberang beberapa bukit dengan jalur landai.

Ada yang lucu di ingatan saya ketika menuruni bukit batu ini. Di tengah jalur, saya berpapasan dengan sepasang bule yang mendaki naik dari Senaru. Sang pria memanggul daypack ukuran sedang—kemungkinan besar mereka membawa porter—sedangkan sang wanita membawa tote bag kulit. Naik gunung bawa tote bag? Baru kali ini saya lihat! Nah, sambil ngos-ngosan, bule pria itu kemudian berkata pada rekannya, “Actually, I don’t know what I’m doing here!” yang kemudian dijawab oleh sang bule wanita dengan, “Me, too. I thought camping in a mountain would be easier!”. Duerrr
!!!




Setelah perjalanan selama kurang lebih lima jam, kami pun sampai di Segara Anak. Hari sudah berangsur gelap; jam menunjukkan pukul delapan malam waktu setempat. Begitu merebahkan pantat di rerumputan di tepi danau sementara beberapa orang anggota rombongan mencari lokasi yang cocok untuk mendirikan tenda, kami disuguhi pemandangan yang tidak ada duanya—bulan purnama menyembul di atas bebukitan dan mulai bergerak pelan menerangi area danau! Mimpi apa saya; sudah bisa sampai di Segara Anak, tepat saat bulan purnama pula!

Segara Anak saat pagi baru merangkak | ©widianawidie

Segara Anak saat pagi baru merangkak | ©widianawidie

Tenda kami di tepi Segara Anak

Tenda kami di tepi Segara Anak

Hari 6: Mandi Air Panas, Mancing, Turun yang Naik

Pagi hari berikutnya, begitu bangun, saya berempat bersama Pak Uwi, Sempal, dan Tania langsung menuju ke sumber air panas yang terletak sedikit di bawah danau. Setelah lima hari tidak mandi, rasanya segar sekali berendam di aliran mata air panas—apalagi, mata air ini mengandung belerang yang bisa mengobati beragam penyakit terutama penyakit kulit.

Setelah kira-kira satu jam menikmati kehangatan mata air, kami berempat kembali ke tenda. Teman-teman yang lain sedang memancing, seperti juga banyak pendaki lainnya. Kalau tidak salah hitung, ada hampir sepuluh ekor ikan mujair yang berhasil ditangkap—sebagian besar adalah hasil perolehan Yonas yang mendapatkannya bukan dengan memancing, tetapi dengan metode menombak. Hebat sekali!

Saya & Sempal (atas) dan Pak Uwi (bawah) berendam di mata air panas

Saya & Sempal (atas) dan Pak Uwi (bawah) berendam di mata air panas

Setelah menyantap makan siang dengan hidangan utama ikan goreng hasil tangkapan teman-teman, kami pun bersiap untuk segera turun melalui jalur Senaru. Sekitar pukul 13.00 WITA, kami pun beranjak menyusuri tepian danau menuju jalur Senaru.

Gunung Barujari (anak Gunung Rinjani) | ©widianawidie

Gunung Barujari (anak Gunung Rinjani) | ©widianawidie

Terharu sekali saya bisa melihat Segara Anak secara langsung | ©tania norika

Terharu sekali saya bisa melihat Segara Anak secara langsung | ©tania norika

Tim Jelajah Mapasadha 2013 (Celnah, Jalang, Kosak, & Kocor) di Segara Anak | ©widianawidie

Tim Jelajah Mapasadha 2013 (Celnah, Jalang, Kosak, & Kocor) di Segara Anak | ©widianawidie

Dua rombongan yang akhirnya jadi satu (minus Yonas) | ©yonas christyawan

Dua rombongan yang akhirnya jadi satu (minus Yonas) | ©yonas christyawan

Gaya! (searah jarum jam): Celnah & Kocor, Tania & Sempal, mas Ade, Pak Uwi

Gaya! (searah jarum jam): Celnah & Kocor, Tania & Sempal, mas Ade, Pak Uwi

Berbeda dari gunung-gunung lain yang pernah saya daki, di mana naik dan turun dilakukan dengan melalui jalur yang sama, jalur Senaru ini mengharuskan kita untuk mendaki naik satu bukit terlebih dahulu untuk bisa turun kembali ke desa. Ini namanya turun yang naik—mau turun saja harus mendaki naik dulu


Kurang lebih tiga jam mendaki, kami sampai di Plawangan Senaru. Mirip dengan Plawangan Sembalun, tempat ini berupa lahan pasir dengan hembusan angin yang sangat kuat. Karena kuatnya angin tersebut, kami pun tidak lama-lama beristirahat di Plawangan Senaru, dan langsung turun cepat-cepat melalui padang sabana.

Mungkin karena berat badan saya yang minim, ditambah muatan carrier sudah berkurang sangat banyak, saya hampir jatuh tertiup angin ketika melewati bukit batu turun dari Plawangan Senaru. Bahkan, saya tetap oleng walaupun muatan carrier sudah ditambah dengan pindahan barang dari Yonas. Toh, Sempal tetap memerintahkan saya untuk berjalan cepat saja supaya bisa segera mencapai hutan—angin di hutan tidak sekencang di sabana.

Menuruti Sempal, saya berjalan cepat dan hampir tidak berpikir. Sepertinya saya harus belajar membedakan antara “berjalan cepat” dengan berjalan ngawur—saya jatuh di jalur sabana dengan kaki tertekuk, dan sepertinya urat paha saya cedera. Menyeimbangkan dengan langkah saya yang sudah seperti nenek-nenek (saya akhirnya berjalan dengan bantuan tongkat kayu), akhirnya kami bertiga berhasil menyusul rekan-rekan lain yang sudah terlebih dulu sampai di Pos III Senaru, yaitu di batas awal hutan.

Menurut rencana, sebenarnya kami harus langsung turun sampai ke Pintu Senaru (basecamp), namun karena kondisi sudah kepayahan, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Pos II Senaru. Karena terletak di tengah hutan yang tidak terlalu tinggi, hawa di sekitar Pos II ini tidak terlalu dingin. Selain itu, ada mata air yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi ulang perbekalan, walau jarak tempuhnya cukup jauh—satu jam pulang pergi.

Bram "Kosak" (kiri) & Yonas (kanan) di jalan menuju Plawangan Senaru, dengan latar belakang Segara Anak | ©widianawidie

Bram “Kosak” (kiri) & Yonas (kanan) di jalan menuju Plawangan Senaru, dengan latar belakang Segara Anak | ©widianawidie

Sisi lain Segara Anak, dilihat dari dekat Plawangan Senaru | ©widianawidie

Sisi lain Segara Anak, dilihat dari dekat Plawangan Senaru | ©widianawidie

Hari 7: Kain Tenun dan Brem

Hari ketujuh, kami mulai bergerak turun sekitar pukul 09.30 WITA. Dengan bantuan tongkat kayu yang tidak pernah lepas dari tangan, saya berjalan berdua dengan Celnah yang setia menunggu. Tidak banyak berhenti atau beristirahat, kami akhirnya sampai di Pintu Senaru kira-kira pukul 14.00 WITA. Sambil menunggu beberapa anggota rombongan yang masih tertinggal di belakang, kami pun bergabung dengan teman-teman lain yang sudah sampai lebih dulu. Di Pintu Senaru ini, ada sebuah warung sehingga kita bisa mengisi perut sambil beristirahat di balai-balai yang ada di seberangnya.

Dari Pintu Senaru, masih butuh waktu paling lama satu jam untuk sampai ke Desa Senaru. Di Desa Senaru, kami beristirahat cukup lama sambil berbelanja oleh-oleh. Pilihannya macam-macam—emblem, pin, kaos, kain syal tenun Lombok, dan pastinya brem cair!

Dari Senaru, kami melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan. Bukan tujuan utama saya sebenarnya, karena saya tidak pernah terlalu menikmati dolan ke pantai—tapi apa salahnya dicoba, mumpung beramai-ramai😉

Audrey "Celnah" (kiri) dan saya (kanan) di Pintu Senaru

Audrey “Celnah” (kiri) dan saya (kanan) di Pintu Senaru

Fajar di Gili Trawangan | ©widianawidie

Fajar di Gili Trawangan | ©widianawidie

Menyambut fajar di Gili Trawangan | ©widianawidie

Menyambut fajar di Gili Trawangan | ©widianawidie

Estimasi Biaya

  • [KA] Yogyakarta – Banyuwangi: Rp. 90.000/orang
  • [Ferry] Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi) – Gilimanuk (Bali): Rp. 10.000/orang (durasi penyeberangan: 30 – 60 menit)
  • [Angkutan] Pelabuhan Gilimanuk – Padangbai (Bali): Rp. 50.000/orang (saya naik angkutan mobil karena terjadi masalah dengan bis yang saya tumpangi, sehingga kami diturunkan di Terminal Mengwi, bukan di Terminal Ubung seperti seharusnya)
  • [Ferry] Pelabuhan Padangbai (Bali) – Lembar (Lombok): Rp. 40.000/orang (durasi penyeberangan 4 – 5 jam)
  • [Angkutan] Pelabuhan Lembar – Kota Mataram: Rp. 25.000 – Rp. 40.000/orang (angkutan berkapasitas 8 orang (tanpa carrier)—jika masing-masing membawa carrier, paling banyak hanya muat 6 penumpang)
  • [Angkutan] Mataram – Sembalun: Rp. 40.000 – Rp. 50.000/orang (menurut pengalaman rombongan lain, bisa juga menyewa angkutan langsung dari Pelabuhan Lembar ke Sembalun seharga kurang lebih Rp. 600.000—agak lebih mahal, tetapi lebih hemat waktu dan tenaga)

[Portrait] Lady in the Shade

1

Talent: Veronika Virly Yuriken

Make-up/Wardrobe: Virly

July 2013 | Photos by widianawidie

2 3 4 5

6 7 8