searching for the extra from the ordinary

Tentukan Sendiri Definisi Cantikmu!

*As this article is dedicated to Indonesians, I prefer to use Bahasa.🙂

Pernahkah ada orang di sekitarmu yang mengomentari penampilanmu? Bentuk tubuhmu, rambutmu, berat badanmu—apa saja? Coba ingat-ingat, pasti ada satu dua (atau bahkan satu dua ratus?) yang pernah melayangkan komentar semacam itu.

Atau, pernahkah kamu sendiri merasa tidak puas dengan keadaan fisikmu? Merasa kelebihan berat badan? Rambut susah diatur kayak singa? Kulit kurang putih dan kinclong? Bohong deh kalo kamu bilang ga pernah.

Entahlah, banyak kaum perempuan yang gelisah memikirkan keadaan fisiknya atau penampilannya. Kenapa begitu? Yah, barangkali karena mereka ingin dinilai “cantik” oleh lawan jenisnya, yang sebagian besar notabene adalah makhluk visual alias mudah terstimulasi oleh apa yang dilihatnya. Salah? Ya enggak juga. Yang jadi masalah adalah ketika akhirnya keinginan untuk dinilai “cantik” ini membuat kita terbeban, menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sebenarnya bukan prioritas, dan ujung-ujungnya merasa tidak puas akan diri kita. Semua demi dibilang “cantik”. Padahal, “cantik” itu sendiri apa sih?

Oke. Ada yang bilang “cantik” itu bukan melulu tentang fisik, tapi lebih tentang “inner quality”—sifat/nature, sikap/behavior, atau pembawaan/attitude. Artinya, seorang cewek bisa saja kurang atau bahkan sama sekali jauh dari “menghibur mata”, tapi toh ada yang bilang dia “cantik” karena dia pintar, berwawasan luas, berbakat, mudah bergaul, dan blablabla lainnya yang tidak berhubungan dengan penampilan. Mau bilang ini pembelaan dari orang-orang yang kurang beruntung dari segi penampilan? Terserah. Nyatanya memang tidak banyak yang tahu bahwa berdasar penelitian, Cleopatra—si ratu Mesir yang dipercaya sebagai salah satu ikon kecantikan tertua dalam sejarah—ternyata tingginya jauh dari semampai (kalau tidak salah sekitar 1,5m saja—pendek ya!), kulitnya cenderung gelap, tubunya tidak langsing, dan hidungnya pesek. Lho, ternyata jauh dari bayangan ya? Lalu, kog bisa-bisanya dia menjadi ikon kecantikan, bahkan sampai zaman modern ini? Bisa jadi, itu karena Cleopatra adalah seorang wanita yang cerdas (setidaknya, dia bisa jadi ratu), tahu kelebihan dan kelemahannya, dan mudah bergaul. Nggak heran lah kalo kemudian Marcus Antonius sampai tergila-gila padanya.🙂

Ada lagi yang bilang “cantik itu relatif”. Apa yang dipandang “cantik’ oleh suatu masyarakat/kebudayaan belum tentu “cantik” di mata masyarakat lain. Misalnya, kebanyakan kaum wanita Indonesia menganggap “cantik” itu adalah kulit putih cerah (minimal kuning deh), rambut lurus halus, atau tubuh tinggi langsing. Padahal, dari sononya memang orang Indonesia—pada dasarnya—terlahir dengan tinggi rata-rata, kulit coklat dan cenderung gelap, dan rambut bergelombang. Makanya, enggak heran produk-produk kecantikan yang menjanjikan kulit lebih putih dan cerah, rambut lurus tergerai, dan tubuh singset bak peragawati mudah menarik hati konsumen & laris manis dalam waktu singkat.

Sebaliknya, kaum wanita Eropa terlahir dengan kulit putih cenderung pucat, rambut minim pigmen, dan ukuran tubuh cenderung besar. Di mata mereka, justru kulit coklat terbakar matahari seperti yang kita miliki ini lah yang dinilai “eksotis”. Enggak heran dong kalo akhirnya mereka bela-belain berjemur kayak ikan tongkol di pantai-pantai demi membuat kulitnya coklat terbakar matahari?

Ada beberapa kebudayaan yang menganggap perempuan bertubuh langsing atau bahkan mungil adalah gambaran wanita yang “cantik” atau setidaknya “ideal”, misalnya di Eropa dan sebagian Asia. Namun, di kebudayan lain—misalnya Afrika—justru wanita bertubuh padat berisi dengan kulit gelaplah yang dianggap “cantik”, karena wanita seperti ini dianggap sanggup bekerja keras. Dengan kata lain, “cantik” adalah sesuatu yang jauh dari mutlak, karena definisi kecantikan ini sangat banyak dipengaruhi oleh tatanan masyarakat tempatnya berkembang.

Saya sering mendengar keluh kesah teman-teman saya yang merasa terlalu gendut lah, kulitnya kurang putih lah, rambutnya keriting dan susah diatur lah, dan tetek bengek lainnya. Yang rambutnya keriting pengen rambut lurus, sementara yang rambutnya lurus pengen keriting. Alasannya sama, biar dibilang “cantik” atau “seksi”. Nah lo! Yang badannya berisi pengen banget langsing, sampe bela-belain (kalo enggak mau dibilang mati-matian) diet, yang buntut-buntutnya malah berujung ke gangguan kesehatan. Mau rambutnya lurus atau keriting, mau badannya langsing atau berisi, yang penting sehat kan? Itu yang utama. Syukuri dong apa yang sudah diberikan buat kita, enggak perlu sirik pengen memiliki rumput tetangga.

Oke. Saya memang beruntung diberi rambut lurus banget, kulit kuning, dan badan kecil (kurus, maksudnya). Secara fisik saya enggak kelihatan seperti orang Jawa pada umumnya, dan memang hampir semua orang yang baru pertama kali kenal saya enggak akan percaya kalo saya bilang orang Jawa (kecuali kalo udah denger saya ngomong Jawa krama, hhehe…) Kadang saya pengen ketawa sendiri kalo ada teman yang bilang pengen badannya kurus kayak saya. Hello? Saya kurus bukan karena diet ya, tapi emang uda bawaan orok. Saya aja pengen nambah berat badan biar enggak gampang sakit kog (curhat-red). Nyatanya badan kurus saya (yang ternyata bisa bikin sirik beberapa orang lainnya) juga enggak lepas dari cemoohan—rata lah, enggak seksi lah, blablabla.  So what if I’m this skinny that they won’t think I’m sexy? I don’t give a damn about that. There’s nothing missing from my body—and that’s more than enough. Kalopun saya dulu terlahir dengan badan gendut, kulit gelap, atau rambut keriting, saya tetap akan bersyukur dan puas akan diri saya.

Ada yang bilang “small is beautiful”, tapi sebaliknya ada juga yang bilang “big is beautiful”. Menurut saya, “anything is beautiful, as long as you love it”. Kalo kamu masih berpikir untuk mengubah tubuh kamu hanya demi dinilai “cantik”, coba kamu tengok sekelilingmu dan lihat orang-orang yang tubuhnya cacat tapi enggak mengeluh. Kamu seharusnya malu kalo sampe masih punya pikiran tidak puas terhadap diri kamu. “Cantik” ato enggak itu kita sendiri yang menentukan, dan langkah pertamanya adalah dengan mensyukuri & mencintai apa yang sudah diberikan pada kita—seperti apapun wujudnya. Wake up, girls!🙂

2 responses

  1. ” rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau ya wid ” : )

    December 16, 2011 at 9:52 am

  2. wah bisa juga itu sebuah pembelaan diri, tapi gapapalah, membela diri berarti mensyukuri diri. Namanya manungso, selalu kurang, saya sendiri masih kurang pendek, repot kalo mau sembunyi pas ditempat ramai, nonton ndangndut koplo misalnya, kasihan juga orang yang dibelakang jadi ketutupan, lebih lebih kalo lagi kejedot pintu…

    May 8, 2012 at 1:30 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s