searching for the extra from the ordinary

The Girl Who Wanted to Buy Time

"clock is ticking while i'm stealing time' - photograph by me

(To read in Indonesian, see below)

If I could only let you know,

I’d give up everything I own.

For just one more day with you,

There’s nothing I wouldn’t give.

~Darius-Live Twice

The little girl wanted nothing but to spend more time with his father who, after left by his wife for another man, has turned into a workaholic, spending 8 hours in the office and another extra five hours on his desk in the house.

Being a little girl, she always seemed to have many stories to tell, and quite many games to play along with his father. Or at least, that was what she wished.

But it was not like what she expected. Her father had left home before she woke up, and she would have gone to her bed before her father finished with the working in front of his computer. It was not to mention the amount of time her father had to spend with his colleagues who, though seemed to like the little girl very much, could not be involved in her playing with her dolls or puzzles.

The only time left for the girl to spend with her father was, perhaps, the dinner time, which they both always spend together. The dining lasted only for half to an hour every night—short, but enough for the girl to share a little story from her day.

But whenever she started to tell a story, her father would reply with, “It’s not good to talk that much while eating. Finish your meal first, then I’ll listen to what you’ve got to say.”

So the little girl ate in silence, hoping that once she had finished her meal, her father would spare a minute or two to listen to her pieces of stories. But after the dinner was over, her father would quickly do the dishes and then headed straight to his room—on his desk, all forgetting his own daughter who could do nothing but wished that her father would spend more time with her the next day.

But that happened everyday.

Once, the little girl woke up in the middle of the night. Seeing the light from her father’s open room, she came to him. There, she saw her father busy doing his work on his desk, doing something she could not understand.

“Daddy, why don’t you sleep?” she asked. “It’s late at night.”

Wihout turning to her, he answered, “I can’t. I’ve still got works to do.”

And that happened several times, if not to say too often.

* * *

Knowing that there’s nothing she could do, the little girl prayed, like she always did every night. This time, she said, “I have many stories I want to tell Daddy. I have many games I want to play with him, many places to visit, many small things to do. Whatever they are, I just want to spend more time with him. But Daddy seems to have not enough time for his work, and never even enough to spend with me.”

She paused. “Forget my stories. Forget the games, the places, the small things.”

She continued, “All I want is just to spend more time with Daddy. It’s okay if we spend it in silence, as long as I’m given more time.”

She paused again. “If I could buy Daddy’s time, I’d do it. Even if it means that I would not be able to tell stories to him, to play or to go to places with him. It’s okay; I only want Daddy’s time, with me.”

* * *

And her prayer was heard; perhaps by God, perhaps by the nature.

From the next day after she prayed so, her father spent more time with her. Not much, but enough. At least for her.

They spent more time on the dining table, all in silence. She could also see her father in the morning before he set off to the office and at night before she sleep.

But there’s always a price to pay for everything.

Her father hadn’t noticed it, but the little girl had lost her voice. She could not say “Goodbye” or “Welcome home”, nor could she tell her stories. She could not ask her father to play a game or to visit a place. Don’t think she could say how much she loved him.

But she never regretted. And that was it; she had bought her father’s time.

* * *

Though unable to say even a word, she felt happy—or at least, she pretended to feel happy. After all, it’s her father’s time that she always wanted, so what else?

But that didn’t last forever, not even until she grew up.

She was sick, but she could only keep it for herself. Remember, she no longer had voice to tell her father about that.

And so she was dying. And still, she insisted on assuring herself that she was happy for the time spent in togetherness with her father, despite the fact that her father didn’t notice her illness at all. Not until the last moments of her life.

* * *

There her father sat, beside her, when she was in the very last moments of her short life. She could tell from the look on her father’s eyes that, for the first time in his life, he was finally really “there” for her—aware of her and feel the moment with her.

“I’m sorry for ignoring you for so long,” her father said sadly and regretfully. “I never really be there for you.”

The little girl shook her head.

She had spent all her father’s time she had bought, but her father hadn’t even feel the same as what she felt—that the time they had spent together was precious and should have been savored together.

It was like she was playing a two-player game, but instead she was playing alone.

As she was severely dying and would soon pass away, she no longer needed her father’s time. And so the time she had bought was then returned to her father, and she got her voice back.

But instead of saying everything she had long to say, she only said, before finally passing away, “Who says we cannot buy happiness?”

And her last words are, “The true thing is, we cannot buy happiness. Nor can we buy time.”

* * *

All the time we have, we spend with the beloved ones are treasures of our lives. Even if we spend it in silence, doing nothing, the togetherness will still make it precious.

Why wait ‘till it’s too late to notice that?

Yogyakarta, 29 February 2012

~Widie

…………………………………………………………………………………………………………..

If I could only let you know,

I’d give up everything I own.

For just one more day with you,

There’s nothing I wouldn’t give.

~Darius-Live Twice


Gadis kecil itu hanya ingin lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama ayahnya, yang setelah istrinya pergi dengan pria lain, menjadi gila kerja; ayahnya menghabiskan delapan jam di kantor dan lima jam lagi di meja kerja di rumahnya.

Ia hanya seorang anak-anak, dengan banyak cerita untuk dikisahkan, banyak permainan untuk dimainkan, banyak tempat untuk dikunjungi bersama ayahnya. Atau setidaknya, begitulah yang diharapkannya.

Namun, harapannya sia-sia. Ayahnya sudah berangkat ke kantor sebelum ia bangun, dan ia sendiri sudah tidur sebelum ayahnya selesai menuntaskan pekerjaan di meja kerjanya di rumah. Belum lagi, ayahnya juga masih harus meluangkan waktu untuk bertemu dengan rekan-rekan kerjanya. Rekan-rekan kerja ayahnya memang tampak menyukai gadis kecil itu, namun jelas ia tidak bisa meminta mereka menemaninya bermain boneka atau puzzle.

Satu-satunya waktu untuk mereka berdua adalah, barangkali, saat makan malam, yang selalu mereka lalui bersama. Makan malam hanya berlangsung setengah sampai satu jam setiap malamnya—singkat, namun cukup bagi gadis kecil itu untuk menceritakan satu kisah kecil.

Namun, begitu ia membuka mulut untuk memulai ceritanya, ayahnya akan menjawab, “Tidak baik berbicara banyak saat makan. Habiskan dulu makananmu, setelah itu akan kudengar ceritamu.”

Maka gadis kecil itu pun diam dan menghabiskan makan malamnya sambil berharap bahwa setelah ia selesai makan, ayahnya akan meluangkan barang satu atau dua menit untuknya. Tetapi, begitu makan malam selesai, ayahnya langsung membereskan meja makan dan kemudian bergegas masuk ke kamarnya sendiri—melanjutkan pekerjaan yang menumpuk di atas meja kerjanya. Dan ayahnya sudah sama sekali lupa pada putrinya yang hanya bisa berharap agar ayahnya meluangkan lebih banyak waktu keesokan harinya.

Namun, begitulah yang terjadi setiap hari.

Sekali waktu, gadis kecil itu terbangun di tengah malam. Melihat nyala lampu dari kamar ayahnya yang terbuka, ia pun mendekat. Di sana, dilihatnya ayahnya sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya—pekerjaan yang tidak dimengerti gadis kecil itu.

“Ayah, kenapa belum tidur?” tanyanya. “Ini sudah larut.”

Tanpa menoleh, ayahnya menjawab, “Tidak bisa, ayah masih banyak pekerjaan.”

Dan itu terjadi beberapa kali, kalau tidak mau dibilang terlalu sering.

* * *

Karena tak ada lagi yang bisa dilakukannya, gadis kecil itu pun hanya bisa berdoa, seperti kebiasaannya tiap malam. Kali ini, ia berdoa, “Ada banyak kisah yang ingin kuceritakan pada Ayah. Ada banyakpermainan yang ingin kumainkan bersama Ayah, banyak tempat yang ingin kudatangi bersama Ayah, banyak hal kecil lain. Apapun itu, aku hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Tetapi Ayah seperti tak pernah punya cukup waktu untuk pekerjaannya, apalagi untukku.”

Ia berhenti sejenak. “Peduli apa dengan cerita-ceritaku. Peduli apa dengan permainan, tempat-tempat, atau semua hal kecil yang ingin kulakukan bersama Ayah.”

Dilanjutkannya doanya, “Yang kuinginkan hanya menghabiskan lebih banyak waktu bersama Ayah. Kalaupun hanya diam dan tidak melakukan apapun, itu tidak jadi soal, selama aku diberi lebih banyak waktu untuk bersamanya.”

Ia berhenti lagi. “Kalau saja aku bisa membeli waktu yang dimiliki Ayah, aku akan membelinya. Bahkan walaupun aku nantinya tidak bisa bercerita apapun padanya, bermain atau mengunjungi tempat-tempat yang ingkin kudatangi bersamanya. Tidak apa; aku hanya ingin waktu Ayah, bersamaku.”

* * *

Dan doanya itu terjawab. Barangkali Tuhan yang menjawab, barangkali juga alam. Keesokan harinya dan seterusnya, ayahnya meluangkan lebih banyak waktu untuknya. Tidak lama, tetapi cukup. Setidaknya untuk gadis kecil itu.

Mereka menghabiskan lebih banyak waktu saat makan malam, dalam diam. Ia juga bisa melihat ayahnya sebelum ayahnya berangkat kerja dan sebelum ia tidur.

Namun, selalu ada harga yang harus dibayar.

Ayahnya tidak menyadari bahwa gadis kecil itu tak lagi pernah bicara. Ia telah kehilangan suaranya, sehingga ia bahkan tidak bisa mengucapkan “Selamat jalan” atau “Selamat datang”, atau menceritakan kisah-kisah kecilnya. Ia juga tidak bisa meminta ayahnya menemaninya bermain atau mengajaknya ke berbagai tempat. Jelas, ia juga tidak bisa memberitahu betapa ia menyayangi ayahnya.

Gadis kecil itu tidak pernah menyesal. Begitulah; ia telah membeli waktu yang dimiliki ayahnya.

* * *

Walau tidak bisa lagi mengatakan sepatah katapun, gadis kecil itu merasa bahagia—atau setidaknya ia pura-pura bahagia. Lagipula, selama ini ia hanya menginginkan waktu yang dimiliki ayahnya, dan kini ia sudah mendapatkannya. Jadi, apa lagi?

Tetapi, hal itu tidak berlangsung lama, tidak juga selamanya.

Gadis kecil itu jatuh sakit, namun ia tidak bisa memberitahu ayahnya. Ingat, ia sudah tidak punya suara.

Sakitnya semakin parah. Walau begitu, ia masih terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bahagia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama ayahnya, walaupun ayahnya ternyata sama sekali tidak menyadari sakitnya itu, sampai saat-saat terakhir itu tiba.

* * *

Barulah ayahnya duduk di sampingnya, di saat-saat terakhir dalam hidup singkat gadis kecil itu. dari tatapan ayahnya, gadis kecil itu tahu bahwa itulah pertama kalinya ayahnya benar-benar “ada” di sana untuknya—menyadari keberadaan putrinya dan benar-benar merasakan saat-saat bersamanya.

“Maaf, selama ini ayah tidak mempedulikanmu,” ayahnya berkata sedih dan penuh sesal. “Ayah tidak pernah benar-benar ada untukmu.”

Gadis kecil itu menggeleng.

Ia telah menghabiskan hampir semua waktu ayahnya yang telah dibelinya, namun ayahnya tidak merasakan apa yang dirasakannya—bahwa waktu yang mereka habiskan bersama adalah saat-saat berharga yang mahal.

Gadis kecil itu seakan sendirian memainkan permainan untuk dua orang.

Karena ia sudah tidak akan bertahan lama lagi, ia tidak lagi membutuhkan waktu milik ayahnya. Dan sisa waktu yang telah dibelinya pun kembali kepada ayahnya; sebagai gantinya, suaranya kembali.

Walau begitu, ia tidak mengungkapkan semua hal yang selama ini ingin dikatakannya. Sebelum menutup mata, gadis kecil itu hanya berucap, “Siapa bilang kita tidak bisa membeli kebahagiaan?”

Dan kalimat terakhirnya adalah, “Memang benar, kita tidak bisa membeli kebahagiaan. Atau waktu.”

* * *

Waktu yang kita miliki dan kita lalui bersama orang-orang yang kita sayangi adalah harta karun dalam hidup kita. Bahkan walaupun kita melaluinya tanpa kata-kata dan tanpa melakukan apa-apa, kebersamaan kita akan tetap menjadikan waktu itu berharga.

Kenapa harus menunggu sampai semuanya terlambat?

Yogyakarta, 29 Februari 2012

~Widie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s