searching for the extra from the ordinary

[Sedikit] Tentang Memotret Panggung Tari & Teater

Kebanyakan orang beranggapan bahwa “panggung = musik”, padahal kenyataannya dunia panggung mencakup cabang yang sangat variatif—dari tari, teater, sendratari, pantomim, dan banyak lagi.

Saya sendiri senang memotret panggung, terutama tari (khususnya tari tradisional) dan teater. Pengalaman saya memang belum banyak, namun setidaknya ada beberapa tip dan trik yang bisa saya bagikan.

Sendratari “Kasatyaning Jalma Dadya Aksara” oleh siswa-siswi angkatan 2011/2012 SMKI Bantul – Yogyakarta, Maret 2012

Mengenal Panggung

Yang saya maksud di sini bukan sebatas mengenal panggung fisiknya saja (tempat pementasan), tetapi juga mengenal lebih mendalam tentang apa yang dipentaskan. Tidak lucu menurut saya saat kita memotret sebuah pentas tari tanpa kita tahu tari apa yang dimainkan; sama tidak lucunya saat kita memotret sendratari atau teater tanpa tahu lakon apa yang diambil.

Baik pentas tari (terutama sendratari) maupun teater biasanya memiliki lakon tersendiri; lakon ini biasanya kaya akan nilai dan pesan. Karenanya, saat memotret pertunjukan tari atau teater, setidaknya ada dua hal yang harus kita ketahui—tentang si pementas dan tentang lakon yang dipentaskan.

Lantas, apa saja yang perlu kita tahu? Pendeknya, kita perlu mencari tahu tentang 5W (What, Who, Where, When, Why) dan 1H (How). Memang tidak semua unsur ini bisa dicari tahu, tetapi paling tidak kita harus tahu apa dan siapanya. Keterangan 5W tentang sang pementas biasanya bisa kita dapatkan dari leaflet yang disediakan di sekitar tempat pementasan. Jika ingin tahu lebih banyak, tak ada ruginya bertanya kepada sang pementas yang bersangkutan atau kepada panitia pergelaran. Tak perlu malu, mereka justru senang jika ada orang (apalagi fotografer) yang ingin tahu lebih dalam tentang pementasannya (trust me, this is my own experience as a dancer).😀

Dengan mengenal panggung sebagaimana yang saya maksud, kita bisa mendapat gambaran tentang pementasan tersebut—adegan-adegannya, momen, bahkan mungkin ekspresi yang bisa kita “kejar”.

Peralatan

Kalau ditanya tentang peralatan, saya sendiri kurang menguasai dan sebenarnya juga tidak terlalu peduli. Ada yang bilang memotret panggung “harus” pakai lensa telezoom, tetapi menurut saya itu bukan suatu kewajiban—sudah beberapa kali saya dan beberapa orang rekan memotret panggung dengan lensa kit 18-55mm yang jangkauannya bisa dibilang terbatas, terutama untuk panggung besar.

Lalu bagaimana? Gampangnya, dengan lensa telezoom kita bisa “mengejar” foto-foto close up sehingga punya kemungkinan lebih besar untuk menangkap ekspresi para pementas. Sebaliknya, dengan lensa yang jangkauannya lebih pendek pun kita tetap bisa mendapatkan “kepuasan” yang setara; fokus saja memotret keseluruhan panggung. Jangan salah, foto close up penari/aktor memang menarik, tetapi foto wide yang menampakkan keseluruhan adegan pun juga tidak kalah menarik—terutama jika bisa menangkap komposisinya, yang dikenal sebagai blocking atau pola lantai (floor pattern).

Saat memotret panggung tari atau teater, saya biasa memakai lensa 18-135mm; menurut pengalaman saya, ini jangkauan yang paling pas—view lebarnya dapat, close up juga bisa. Flash jelas tidak perlu, karena hampir semua pementasan tari atau teater tidak mengizinkan fotografer untuk memotret dengan bantuan flash (built-in maupun eksternal).

Memori 4GB saja juga sudah cukup, bahkan bisa dibilang berlebih, untuk memotret satu pementasan dengan durasi maksimal 3 jam. Saya biasanya membawa memori cadangan hanya jika diminta memotret selama beberapa hari berturut-turut dan tak sempat memindahkan data foto yang sudah diambil.😉

Tarian pembuka dalam sendratari “Minten Edan” oleh siswa-siswi angkatan 2011/2012 SMKI Bantul – Yogyakarta, Maret 2012

Persiapan

* Datang pada saat Gladi Resik (GR)

Menonton GR akan memberikan banyak keuntungan untuk kita saat memotret pentasnya; selain sudah tahu adegan, momen, atau ekspresi yang ingin dikejar, kita juga bisa mencoba beberapa spot untuk mengambil gambar. Tambah lagi, jika kita bisa memanfaatkan waktu GR untuk pedekate dengan panitia (atau pementas, kalau beruntung), saat memotret pentasnya pun kita biasanya akan lebih leluasa. Ini memang tidak wajib, tetapi akan sangat membantu jika bisa dilakukan.

* Datang 30 menit atau minimal 20 menit sebelum pentas dimulai

Kalaupun tidak bisa hadir saat GR, maka usahakan datang lebih awal saat pentas. Dengan datang lebih awal, kita juga masih punya waktu untuk mencari tahu tentang pementasan yang akan kita potret tersebut.

* Cari posisi tembak yang nyaman dan pas

Ini sebagian besar berhubungan dengan peralatan yang kita bawa. Kalau memungkinkan, ambil posisi terdekat dengan panggung. Saat memotret pentas tari atau teater, saya lebih suka memotret dari bagian depan panggung sedikit geser ke sebelah kiri atau kanan; tidak persis di tengah. Pasalnya, kebanyakan tari atau teater lebih menerapkan pola lantai yang cenderung diagonal/menyamping; kalau dipotret persis dari depan, kadang hasil fotonya jadi terkesan datar.

* Siapkan kamera sebelum pentas dimulai

Jangan sampai kita masih ribet mengotak-atik pengaturan kamera padahal pentas sudah dimulai.

* Uji coba sebelum pentas dimulai

Jika sebelum pentas ada MC atau acara pembukaan, manfaatkan untuk menjajal pengaturan kamera.

Pengaturan

Tidak ada aturan baku untuk hal ini; intinya, pilih mode atau pengaturan yang paling membuat kita merasa nyaman. Saya sendiri biasanya melakukan pengaturan seperti ini:

  • Mode Manual
  • ISO 800 atau 1600
  • Aperture 4.0 sampai 5.6, shutter speed menyesuaikan keadaan pencahayaan (antara 1/200 sampai 1/30)
  • Auto White Balance
  • AI Focus
  • Picture Style: Netral/Standard (kalau mau dibuat B/W, nanti saja saat post-processing)
  • Picture format/size: JPG Large

Apa yang Dipotret?

Baik tari maupun teater sama-sama adalah bahasa tubuh; sekecil apapun gerakan atau sikap tubuh, ada makna yang terkandung di dalamnya. Secara umum, di bawah ini adalah hal-hal yang biasanya saya “kejar” saat memotret tari atau teater:

* Gestur

Gestur berarti gerakan tubuh, baik keseluruhan maupun sebagian. Saat memotret pentas tari, ada banyak gestur yang bisa kita potret—gerakan tangan menyembah, menunjuk, dan banyak lagi.

Teater musikal “Nyanyian Rimbayana” oleh TGM – Desember 2011

Sendratari “Minten Edan” oleh siswa-siswi angkatan 2011/2012 SMKI Bantul – Yogyakarta, Maret 2012

Sendratari “Nglabuhi Wutah Rah” oleh siswa-siswi angkatan 2011/2012 SMKI Bantul – Yogyakarta, Maret 2012

* Postur

Postur berarti sikap tubuh—berdiri, duduk, berjongkok, dan sebagainya. Karena tari dan teater adalah seni olah tubuh yang ditampilkan dalam bentuk indah, maka postur-postur ini (yang sebenarnya adalah postur yang juga banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari) ditampilkan dengan “polesan”. Postur tubuh pementas juga mencerminkan karakteristik tokoh yang dibawakannya. Sebagai contoh, dalam sendratari Jawa, raja/pembesar biasanya akan menampilkan postur tubuh tegak dan tegap, biasanya dengan selendang disampirkan di salah satu lengan, dan saat berdiri biasanya kaki lebih terbuka lebar.

Sendratari “Minten Edan” oleh siswa-siswi angkatan 2011/2012 SMKI Bantul – Yogyakarta, Maret 2012

Teater musikal “Nyanyian Rimbayana” oleh TGM – Yogyakarta, Desember 2011

*Ekspresi

Dalam sendratari dan terutama teater, ekspresi wajah memainkan peranan penting untuk mengungkapkan emosi penari/aktor. Karenanya, kita perlu juga memperhatikan perubahan ekspresi pada wajah mereka.

Tari Bali “Tarunajaya” oleh Nyoman Trisna Aryanata (Komunitas Tari Bali Sekar Jepun) – Yogyakarta, Oktober 2011

Pentas teater (pantomim) “Aku Mau Kamu” oleh Teater Seriboe Djendela – Yogyakarta, April 2012

Teater musikal “Nyanyian Rimbayana” oleh TGM – Yogyakarta, Desember 2011

* Komposisi/Pola lantai

Dalam tari berkelompok, komposisi/pola lantai bisa jadi salah satu hal yang bisa kita kejar, karena tak jarang ada komposisi yang menarik dan tidak biasa.

Sendratari “Kasatyaning Jalma Dadya Aksara” oleh siswa-siswi angkatan 2011/2012 SMKI Bantul – Yogyakarta, Maret 2012

Sendratari “Nglabuhi Wutah Rah” oleh siswa-siswi angkatan 2011/2012 SMKI Bantul – Yogyakarta, Maret 2012

* Dinamika

Siapa bilang foto yang bagus hanya foto yang “bersih”, jelas, momen tertangkap seakan beku? Ingat, dalam tari atau teater, gerak menjadi hal yang utama. Makanya, kadang foto yang shake (akibat gerakan penari/aktor) justru kelihatan lebih hidup dan lebih mampu mengungkap dinamika yang terjadi di atas panggung. Saya sendiri kadang sengaja mengejar gerakan-gerakan ini dengan slow speed.

Sendratari “Sang Dewa maha Bharata (Bhisma Mahawira)” oleh UKM Swagayugama – Yogyakarta, November 2011

Teater musikal “Nyanyian Rimbayana” oleh TGM – Yogyakarta, Desember 2011

Post-processing

Setelah memotret, hasil fotonya biasanya saya pilih, lalu saya proses sedikit. Proses editing yang saya lakukan sebatas cropping dan tone curve adjustment. Paling mentok saya menambahkan vignette supaya frame foto terlihat lebih halus.

Saat memproses foto, saya punya patokan “Kalau cropping dan tone adjustment tidak berhasil membuat fotonya terlihat bagus atau memuaskan (setidaknya untuk saya sendiri), ya sudah, jangan maksa. Buang saja fotonya; itu berarti foto saya memang jelek dan tidak bisa ditolong lagi.” Dengan begini, saya sendiri juga jadi belajar untuk lebih hati-hati dan lebih cermat saat memotret.

One response

  1. Pingback: Tentang Memotret Festival Kesenian Rakyat « widianawidie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s