searching for the extra from the ordinary

Tentang Memotret Festival Kesenian Rakyat

Tari Topeng Ireng – Festival Seni Tradisi Anak Merapi 2012 (Tlatah Bocah #6) – Nglinggo, Pagerharjo, Samigaluh – 24 Juni 2012

Kesenian Rakyat

Apa yang terbayang saat kita bicara tentang fotografi panggung?

Bisa jadi yang pertama muncul di pikiran adalah bentuk fisik panggung yang tersusun dari level setinggi sekian meter, lengkap dengan tata lampu megah dan warna-warni. Panggung seperti ini memang yang paling banyak dan mudah ditemui, dan sudah cukup banyak penggemar maupun ahli fotografi yang membahas seputar banyak aspek dalam memotret panggung semacam itu.

Lalu, bagaimana dengan panggung kesenian rakyat?

Yang dimaksud kesenian rakyat adalah pertunjukan kesenian tradisional yang mengandung dan mencerminkan kekhasan serta nilai-nilai kearifan lokal dari daerah asalnya. Pertunjukan semacam ini tidak selalu ada; umumnya pagelaran kesenian rakyat ini diadakan dalam rangka memperingati atau meramaikan acara-acara tertentu di daerah yang bersangkutan (misalnya menjelang musim panen atau saat selamatan desa).

Di masa kini, pertunjukan kesenian rakyat ini cukup sering diselenggarakan secara terpadu dan terorganisasi; kebanyakan terangkai dalam sebuah festival kesenian rakyat (FKT) yang hadir sebagai acara tahunan. Beberapa contoh festival sejenis ini yang cukup tenar di tanah Jawa—khususnya Jawa Tengah—antara lain Festival Seni Tradisi Anak Merapi (lazim dikenal dengan nama Tlatah Bocah), Festival Lima Gunung, atau Dieng Culture Festival.

Dibanding bentuk seni pertunjukan yang lain, kesenian rakyat ini bisa dibilang memiliki cukup banyak perbedaan—baik dari tempat, waktu, maupun bentuk penyajiannya. Nah, untuk memotretnya pun, ada beberapa hal yang perlu kita tahu dan perhatikan. Mari kita bahas satu per satu.

Reog – Festival Seni Tradisi Anak Merapi 2012 (Tlatah Bocah #6) – Nglinggo, Pagerharjo, Samigaluh – 24 Juni 2012

 

Tempat

Berbeda dengan pertunjukan seni tradisional di panggung konvensional yang memiliki leveling, panggung kesenian rakyat biasanya bukan berupa gedung atau bangunan jadi. Kebanyakan kesenian rakyat diadakan di ruang terbuka (lapangan, halaman rumah, dsb) tanpa panggung fisik. Lokasi penyelenggaraannya pun biasanya jauh dari kota—entah di desa yang agak ‘mblusuk’ atau bahkan di atas bukit.

Jika ingin memotret FKT, ada baiknya kita cari tahu lokasinya sejak jauh hari. Ini penting; selain untuk menghindari resiko nyasar, juga untuk menghemat waktu, tenaga, dan bahan bakar kendaraan. Untuk mencari informasi tentang lokasi FKT, kita bisa manfaatkan internet atau bertanya pada teman. Kalau kita punya teman yang tinggal atau berasal dari daerah sekitar lokasi acara, kita juga bisa bertanya atau sekalian mengajak mereka.

Tari Kebo Giro dari Bandongan, Gondosuli, Muntilan – Festival Seni Tradisi Anak Merapi 2012 (Tlatah Bocah #6) – Gejiwan, Sumber, Magelang – 8 Juli 2012

Waktu & Agenda

Umumnya, FKT berlangsung selama lebih dari satu hari—antara 2 sampai 3 hari. Ada juga yang berupa rangkaian acara yang digelar setiap minggu selama kurang lebih sebulan (misalnya Festival Seni Tradisi Anak Merapi). Kebanyakan FKT digelar pada siang hari, walau ada juga yang mengambil waktu malam hari.

Dalam satu hari pelaksanaan, festival kesenian ini diisi dengan beragam agenda pertunjukan dari berbagai daerah/desa—kadang sampai 10 agenda pertunjukan. Penting bagi kita untuk mencari tahu agenda pertunjukan apa saja yang akan ditampilkan pada hari itu, sehingga kita sudah punya bayangan apa saja yang akan kita potret.

Saya sendiri biasanya fokus untuk memotret 2 sampai 3 agenda pertunjukan. Misalnya, di acara Tlatah  Bocah (24 Juni 2012), saya fokus untuk memotret pertunjukan Topeng Ireng dan Reog. Alasannya sederhana—saya belum pernah berhasil mendokumentasikan kedua pertunjukan itu secara lengkap.

Pemilihan pertunjukan ini sama sekali bukan berarti bahwa agenda-agenda pertunjukan yang lain tidak penting; ini hanya untuk membantu kita supaya lebih fokus dan maksimal selama memotret. Dasar pemikiran saya adalah bahwa memotret membutuhkan energi dan konsentrasi; kalau memaksakan memotret semua agenda pertunjukan, saya sendiri tidak yakin sanggup mempertahankan konsistensi dan konsentrasi selama memotret. Agenda-agenda pertunjukan yang belum terdokumentasikan biasanya saya simpan untuk ‘dikejar’ di lain kesempatan.

Tari Saman oleh Sanggar Astha Kirana (Yogyakarta) – Festival Seni Tradisi Anak Merapi 2012 (Tlatah Bocah #6) – Gejiwan, Sumber, Magelang – 8 Juli 2012

Memotret

Nah, setelah tahu tentang waktu, tempat, dan agenda acara, ada juga beberapa hal yang perlu kita perhatikan demi kelancaran dan kenyamanan kegiatan memotret kesenian rakyat.

Posisi

Seperti sudah saya sebutkan di atas, FKT biasanya digelar di ruang terbuka/lapangan. Para penonton duduk membentuk lingkaran berlapis (seperti di tribun stadion sepak bola), sementara pementas berada di tengah lingkaran. Susunan seperti ini memiliki banyak keuntungan bagi kita yang ingin memotret, terutama jika badan kita tergolong kecil dan pendek (seperti saya, hehe).

Dengan posisi duduk, kita bisa meminimalisir resiko berdesakan dengan penonton/fotografer lain. Pandangan ke arah pertunjukan juga lebih bebas dan leluasa. Selain itu, posisi duduk juga menguntungkan jika kita tidak membawa tripod, karena kita bisa memanfaatkan lutut kita sebagai penumpu saat memotret. Jika memungkinkan, ambil posisi duduk di lapis terdepan.

Namun, perlu diingat juga bahwa posisi duduk ini juga punya sekian konsekuensi, terutama jika kita duduk di barisan terdepan yang berarti paling dekat dengan pementas. Resiko terinjak atau tertabrak oleh pementas selalu ada, apalagi untuk jenis pertunjukan yang tergolong memiliki tingkat dinamika tinggi atau bahkan agresif, misalnya tari Topeng Ireng atau Kebo Giro.

Foto atraksi memecahkan buah kelapa menggunakan kepala dalam pertunjukan Reog di bawah ini adalah salah satu contoh. Saat memotretnya, saya duduk di barisan paling depan. Hasilnya, muka saya kecipratan air degan dari buah kelapa yang dipecahkan, dan batok kelapanya juga hampir mengenai kamera😀

Atraksi dalam pertunjukan Reog – Festival Seni Tradisi Anak Merapi 2012 (Tlatah Bocah #6) – Nglinggo, Pagerharjo, Samigaluh – 24 Juni 2012

Backstage

Seperti pertunjukan seni lainnya, memotret FKT tidak berarti hanya memotret pentas atau atraksi yang dipertunjukkan saja. Wilayah belakang panggung (backstage) juga menarik untuk didokumentasikan.

Kebanyakan pengisi acara dalam FKT biasanya datang ke lokasi acara sudah dengan mengenakan kostum dan make-up lengkap untuk menghemat waktu, terutama bagi kelompok pementas yang berasal dari daerah/desa yang jauh dari lokasi acara. Namun, tidak ada ruginya sekali-sekali ‘mengintip’ ke backstage, karena pasti ada satu dua anggota pementas yang masih dandan atau memakai kostum.

Jangan lupa untuk minta izin terlebih dulu sebelum memotret di backstage, dan pastikan aktivitas kita tidak mengganggu kesibukan para pementas.

Backstage Topeng Ireng – Festival Seni Tradisi Anak Merapi 2012 (Tlatah Bocah #6) – Nglinggo, Pagerharjo, Samigaluh – 24 Juni 2012

Peralatan & Pengaturan

Seperti yang pernah saya kemukakan di sharing saya Sekilas tentang Memotret Panggung Tari & Teater, peralatan tidak seharusnya menjadi kendala. Kamera dan lensa apapun tidak seharusnya menjadi patokan saat kita ingin memotret. Yang perlu dilakukan adalah mengakali keterbatasan alat yang ada.

Yang bisa dibilang cukup perlu barangkali adalah blower, mengingat lapangan yang menjadi panggung pertunjukan biasanya berdebu, sehingga kita bisa langsung membersihkan kamera atau lensa jika terkena debu. Jika kita memotret FKT bersama beberapa orang teman, bawa satu blower untuk dipakai bergantian saja sudah cukup.

Demikian juga soal pengaturan kamera; yang terpenting adalah pengaturan yang dilakukan membuat kita nyaman. Saya sendiri biasa menerapkan pengaturan sebagai berikut saat memotret kesenian rakyat:

*Mode Manual

*ISO 100 atau 200—menyesuaikan dengan keadaan cahaya

*White Balance: Auto atau Daylight

*Aperture dan shutter speed menyesuaikan dengan apa yang akan dipotret

Tari Jaran Debog dari Salaman, Magelang – Festival Seni Tradisi Anak Merapi 2012 (Tlatah Bocah #6) – Gejiwan, Sumber, Magelang – 8 Juli 2012

Jangan Ketinggalan

Ada beberapa ‘peralatan perang’ lain yang kelihatannya sepele namun punya manfaat saat kita memotret FKT. Jangan sampai lupa membawa/memakai:

*Syal/slayer/bandana—terutama jika kita alergi debu

*Topi—terlalu lama terkena sengatan terik matahari bisa membuat kita cepat lelah dan konsentrasi menurun

*Sepatu—lebih baik dan lebih aman memakai sepatu daripada sandal (saya pernah mengenakan sandal saat memotret FKT, dan hasilnya sandal saya kesampar oleh pementas—duh!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s