searching for the extra from the ordinary

Hutan Adat Wanasadi: Gejog Lesung, Rinding Gumbeng, Nyadran

Hutan Adat Wanasadi

Pertengahan Juli 2012 lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Hutan Adat Wanasadi yang terletak di dusun Duren, desa Beji, Ngawen – Wonosari. Kunjungan tersebut dalam rangka acara Nyadran di desa tersebut.

Nyadran sendiri adalah ritual di kalangan pemeluk Islam menjelang bulan puasa (Ramadhan). Rangkaian acara Nyadran bisa berbeda-beda tergantung dari kebiasaan dan tradisi yang berlaku di tiap daerah; umumnya, Nyadran berisi bersih makam leluhur, doa bersama (Ndonga), dan makan bersama (kenduri).

Saya berangkat bersama teman-teman komunitas Lifepatch; perjalanan dari kota Yogyakarta ke dusun Duren memakan waktu sekitar 2,5 jam dengan berkendara mobil. Kami sampai di Duren menjelang Magrib. Sambil menunggu acara yang akan dimulai malam hari itu, kami berkumpul di tanah lapang di bawah kaki hutan. Sambutan teman-teman warga Duren sangat hangat; beberapa tenda sudah disiapkan, bahkan kayu bakar untuk membuat api unggun pun sudah tersedia.

Sekitar pukul 7 malam, kami turun ke tempat diadakannya acara. Rangkaian acara dibuka dengan pertunjukan musik Gejog Lesung yang dibawakan oleh sejumlah wanita paruh baya warga asli Duren. Lesung sendiri adalah alat tradisional untuk menumbuk padi—alat ini digunakan sebelum munculnya alat selep padi. Lesung terbuat dari gelondongan kayu yang dilubangi; padi kemudian ditumbuk menggunakan tongkat kayu yang disebut alu.

Selain untuk menumbuk padi, lesung ternyata juga bisa dimanfaatkan sebagai alat musik. Suara tumbukan antara alu dan permukaan lesung ternyata bisa menghasilkan irama yang menarik, apalagi disertai nyanyian para ibu penumbuk. Irama inilah yang dikenal sebagai musik Gejog Lesung.

 

Lesung dan alu yang dipakai untuk mempertunjukkan musik Gejog Lesung

 

Para ibu yang memainkan musik Gejog Lesung

 

Setelah Gejog Lesung, kami kemudian disuguhi pertunjukan kesenian musik Rinding Gumbeng. Sekedar tahu, kesenian ini adalah kesenian asli dusun Duren yang tidak bisa ditemukan di daerah lain. Seluruh alat musik yang digunakan untuk pertunjukan Rinding Gumbeng ini terbuat dari bambu Petung beragam ukuran dan bentuk; tiap instrumen punya fungsi sendiri dan menghasilkan suara khas masing-masing. Istimewanya, alat musik ini juga bisa dimainkan dengan mengikuti irama gamelan.

Penutup acara pada malam hari itu adalah musik campursari yang dibawakan oleh para warga desa yang rata-rata sudah berusia di atas 50 tahun. Seusai acara, kami kembali ke perkemahan untuk istirahat.

Perangkat alat musik Rinding Gumbeng yang semuanya terbuat dari bambu

 

Alat musik Rinding; terbuat dari bilah bambu, dimainkan dengan cara ditiup

 

Alat musik Angklung yang juga digunakan dalam kesenian Rinding Gumbeng

 

Dalam kesenian Rinding Gumbeng, gelondongan bambu ini berfungsi seperti gong

 

Kenduri

Pagi harinya, sekitar pukul 10 warga desa sudah mulai berbondong-bondong mendaki bukit. Hutan Adat Wanasadi terletak di puncak bukit yang membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit tersebut. Anak-anak, remaja, bapak dan ibu, bahkan orang-orang yang sudah berusia lanjut, semua semangat bersama-sama naik ke bukit, padahal jalan setapak bukit itu menanjak dan licin. Setiap warga tampak membawa aneka makanan yang dibungkus dalam sarangan (wadah dari janur) maupun tenggok (semacam bakul) yang juga terbuat dari anyaman janur.

Pemandangan di Hutan Adat Wanasadi sungguh menyegarkan mata; ada empat pohon Munggur atau Asam Jawa (Tamarindus indica L) berukuran raksasa—butuh rentangan lengan 3 sampai 4 orang dewasa untuk bisa mengitari batangnya, sementara daunnya juga sangat rimbun dan subur.

Warga berkumpul di Hutan Adat Wanasadi untuk acara Nyadran

 

Makanan yang dibawa warga desa dikumpulkan untuk kemudian dibagikan kepada semua yang hadir

 

“Sarangan” – anyaman janur yang digunakan sebagai wadah makanan

 

 

Begitu semua warga desa sudah berkumpul, makanan pun dikumpulkan di satu tempat, untuk kemudian dibagikan secara merata pada semua yang hadir. Kami juga mendapat bagian makanan tersebut. Setelah semua yang hadir mendapat makanan, pemuka desa memimpin doa; mengucapkan syukur serta memohon berkat bagi desa dan seluruh isinya. Kemudian, acara pun dilanjutkan dengan kenduri (makan bersama).

Selesai kenduri, kesenian Rinding Gumbeng sekali lagi dipertunjukkan; kali ini di bawah salah satu pohon Munggur di hutan tersebut.

Warga desa bersantap bersama

 

Rombongan kami juga mendapat bagian makanan🙂

 

Penampilan kesenian Rinding Gumbeng di Hutan Adat Wanasadi

 

Hutan Adat Wanasadi

Hutan Adat Wanasadi sendiri bisa dibilang sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Dusun Duren. Menurut cerita warga, hutan ini menjadi penopang hidup warga desa karena dari hutan inilah asal sumber mata air yang mengaliri desa mereka. Karenanya, warga sangat menghormati hutan ini; dalam artian, mereka selalu berusaha menjaga kelestariannya dan tidak mau mengusik apalagi merusak isinya—mengambil kayu atau merusak tumbuhan yang tumbuh di wilayah hutan tersebut.

Pada tahun 1965, hutan ini sempat menjadi ‘korban’ penebangan besar-besaran. Akibatnya, hutan Wanasadi pun gundul dan mata airnya berhenti mengalir. Setahun berikutnya, warga berinisiatif menghijaukan kembali hutan ini secara gotong royong. Usaha mereka ini berhasil; hutan kembali subur dan mata air kembali mengalir, bahakan tidak pernah kering hingga saat ini.

Sebagai ungkapan syukur atas kembali hijaunya hutan Wanasadi dan kembali mengalirnya mata air, salah satu wujud terima kasih warga adalah melalui upacara Nyadran yang digelar tiap tahun tersebut. Selain itu, warga juga secara turun temurun menanamkan rasa memiliki dan menghargai hutan tersebut kepada generasi baru, sehingga huta tersebut bisa terus terpelihara.

(Selengkapnya tentang Hutan Adat Wanasadi bisa dibaca di sini.)

Rimbunnya dedaunan pohon di Hutan Adat Wanasadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s