searching for the extra from the ordinary

Kenapa Harus ‘Menaklukkan’ (Alam) Kalau Bisa ‘Berteman’?

Climacophobia ini sempat bikin saya stres waktu turun dari Merapi😦

Mungkin, saya cuma satu dari sekian banyak orang—tua muda; laki perempuan—yang suka bermain di hutan, bukit, dan gunung.

Mungkin, saya juga satu dari sekian orang yang walaupun kondisi badannya tidak terlalu fit tetapi tetap senang dan semangat bermain di tempat-tempat di alam bebas yang situasinya sulit diterka apalagi dikendalikan.

Dan mungkin, saya bukan satu-satunya yang merasa heran dengan adanya istilah ‘menaklukkan’ dalam kegiatan berpetualang ke hutan atau gunung.

Kenapa ya, sepertinya banyak yang masih berpegang pada pikiran bahwa mendaki gunung atau blusukan di hutan itu tujuannya adalah untuk ‘menaklukkan’ tempat yang didatangi; dengan kata lain, ‘menaklukkan’ alam sekitar tempat itu.

Pasti pernah kan dengar kalimat semacam “Ayo taklukkan puncak X”, atau “Saya akhirnya berhasil menaklukkan gunung Y”? Ada apa; apa kita sedang menginvasi hutan, bukit, dan gunung yang kita telusuri? Apa mereka musuh kita? Dan kalau menyematkan kata ‘menaklukkan’, apa berarti kita—baik secara sadar maupun tidak—menempatkan diri kita pada posisi yang superior dibandingkan alam?

Kegiatan bertualang (dan ‘petualang’ sebagai pelakunya) sering, dan hampir selalu, diidentikkan dengan hal-hal yang berbau ‘kuat; gagah; sangar; menang”—pendek kata, jauh atau sama sekali tidak lemah. Tapi sebentar, lemah seperti apa?

Kalau lemah itu diukur dari ketahanan fisiknya, berarti saya sangat lemah, sangat jauh dari gambaran petualang; padahal saya suka bermain ke hutan, bukit, dan gunung. Padahal lagi, ‘bertualang’ maupun ‘petualang’ sebenarnya berasal dari akar kata ‘tualang’, yang artinya kurang lebih adalah ‘berkeliaran/mengembara’; tidak ada unsur yang mengarahkan pada suatu ‘keharusan’ bahwa bertualang dan petualang itu musti kuat dan musti ‘menang’.

Hemm, sampai di sini, saya sebenarnya ngomong apa sih?

Saya cuma ingin curhat.

Dari cerita beberapa kali mendaki gunung, di setiap kesempatan selalu ada satu dua orang teman yang berpikiran bahwa tujuan utama pendakian adalah mencapai puncak. Mbuh piye carane, pokoke kudu tekan puncak. Atau, bahkan ada yang lebih tajam menyatakan “Mosok ra tekan puncak? Lemah!”

Kalau boleh jujur, saya tersiksa dengan pemikiran seperti itu.

Pertama, saya lemah secara fisik karena ada sekian penyakit bawaan yang kadang membuat saya tidak bisa berkutik—dan kambuhnya juga sewaktu-waktu, sesuka-sukanya si penyakit.

Kedua, saya menderita (eh, apa sih kata selain menderita? mengidap?) climacophobia—fobia terhadap aktivitas mendaki (termasuk fobia terhadap bentuk tangga/tanjakan, kegiatan mendakinya sendiri, dan ketinggian). Boro-boro tangga batu di gunung, tangga di rumah aja saya males naik! Dan kalau fobia ini sudah ‘beraksi’, stress berat deh saya, yang biasanya disusul dengan macam-macam keluhan fisik dari mual, migrain, sampai vertigo—yang tidak pernah absen menyertai setiap kali saya dolan ke bukit atau gunung. Payah ya?

Ketiga, dan mungkin saya tidak sendirian dalam hal ini: saya lebih menikmati proses perjalanan itu sendiri dibandingkan momen ketika sampai di puncak. Bukan berarti puncak itu tidak penting; bagi saya, bisa sampai ke puncak adalah bonus, tapi bukan tujuan utama.

Yang paling saya suka dari perjalanan mendaki (baik bukit maupun gunung) terutama adalah saat berjalan di antara pohon atau belukar (walaupun saya mungkin bakal langsung semaput kalau sampai nyenggol ulat), saat melihat kota jauh di bawah sana (walau setelah itu pusing karena takut ketinggian), apalagi saat malam tiba dan berbaring di rerumputan sambil memandangi bintang di langit. Duh, manis banget!

Ya memang, di kota pun kita bisa lihat pemandangan langit penuh bintang; tapi perasaan yang itu—perasaan saat melihat bintang dari atas gunung atau di tengah hutan itu—sepertinya bukan sesuatu yang bisa dengan mudah kita temukan di tengah keramaian dan keribetan kota. Sepertinya hanya di alam bebas saja perasaan seperti itu bisa lebih mudah muncul.

Alam baik kan, memberi kita kemudahan untuk merasa tenang dan nyaman dan sebentar bebas dari bermacam hal yang ribet-ribet yang setiap hari kita hadapi di kota. Lalu, kenapa kita ‘harus’ menaklukkannya? Bukannya lebih baik kita berkenalan, berteman, dan menikmatinya?

Kadang saya merasa bahwa pemikiran bahwa “naik gunung ya harus sampai puncak” itu seperti saat kita kelewat napsu mendapatkan cowok/cewek yang kita suka; kita terpaku pada keinginan untuk menaklukkan si dia dan kita justru jadi lupa untuk menikmati setiap tahapan pedekate—mencari tahu lebih banyak tentang si dia, menghabiskan waktu bersamanya walau mungkin hanya diam tidak berbuat apa-apa. Hemm, analogi saya terlalu romantis ya?

Saat pedekate, kita pasti ingin terlihat hebat dan keren di mata si dia—serba bisa, serba oke. Dan kita kadang tidak mau mengakui, bahkan menyembunyikan, kelemahan/kekurangan kita. Mungkin seperti itu juga yang terjadi saat kita bertualang di alam bebas dengan tujuan ‘menaklukkan’.

Sisi baiknya, kita jadi berusaha lebih untuk bisa mengatasi kekurangan atau kelemahan kita. Sisi buruknya, menurut saya, kita jadi tidak jujur—pada alam, dan pada diri sendiri.

Saya bermain ke gunung atau hutan karena saya ingin mengenal dan mencari ketenangan; bukan supaya dibilang hebat dan keren karena bisa ‘menaklukkan’.

Kalau dibilang lemah karena saya butuh waktu dua kali lebih lama dibanding teman-teman lain untuk bisa menyelesaikan perjalanan (sampai titik tertentu), ya memang. Saya tidak malu kalau ditanya tentang perjalanan saya dan jawaban saya adalah, “Wah, enggak sampai puncak; nggak kuat,” atau “Sampai sih, tapi jalannya seharian”. Memang segitu kemampuan saya; kalau dipaksakan, bisa-bisa saya semaput dan malah bikin repot.

Kalau di tengah jalan saya merasa tidak kuat (entah karena sakit atau karena fobia), saya anggap bahwa alam menyuruh saya untuk istirahat atau bahkan mungkin berhenti sekalian. Memang sih kita yang paling tahu tentang diri kita sendiri; tapi kadang kita juga masih butuh pihak lain untuk memberitahu seberapa sebenarnya kemampuan kita.

Kalau dibilang lemah, saya memang lemah. Tapi sebenarnya, siapa sih di antara kita yang bisa dengan yakin 100% mengaku lebih kuat dari alam?

Yogyakarta,

10 Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s