searching for the extra from the ordinary

Semalam saya melihat malaikat

Jadi semalam saya melihat malaikat. Saya nggak tahu malaikat itu jenis kelaminnya apa. Susah ngeliatnya, karena dia sangat bercahaya.

Eh, lagian bisa-bisa saya digampar kalo maksa pengen liat jenis kelaminnya apa -,-

Malaikat itu cuma numpang lewat di depan saya. Tapi saya penasaran, jadi saya sedikit ‘menguntit’ dia.

Ternyata, dia mendekati seorang gelandangan yang sedang tidur di reruntuhan bangunan tua.

Nggak tahu bagaimana awalnya, dari atas langit-langit bangunan yang sudah reyot itu tiba-tiba muncul setan-setan.

(Sudah, nggak usah dibayangkan bentuknya kayak apa; saya aja males mengingatnya.)

 

Pendek kata, setan-setan itu tanpa ba-bi-bu langsung melemparkan banyak sekali bola api (kayak di film-film tentang santet itu lah) ke arah si gelandangan yang sedang tidur itu. Lemparan mereka membabi buta (memangnya ada babi yang bener-bener buta ya? Tau deh.) sampai mengenai saya juga, padahal ceritanya kan saya cuma sedang menguntit si malaikat itu. Aih, saya ketiban sial juga rupanya, kaki saya gosong kena bola api itu.

Karena setan-setan itu makin menggila, saya pun memutuskan untuk kabur saja. Mending selamatkan diri deh, daripada ikutan mati bego cuma gara-gara penasaran sama si malaikat itu.

Anehnya, si gelandangan yang sedang tidur pulas itu seperti tidak merasa terganggu dengan serangan para setan itu. Dia masih saja tidur nyenyak; sebentar terbangun tapi dia cuek saja dan cuma menggeser sedikit posisinya lalu kemudian tidur lagi.

Dengan heroik (bayangkan film-film action deh), si malaikat itu menjunjung si gelandangan itu, tepat sebelum sebuah bola api jatuh berdebam di tempatnya tidur. Lalu, malaikat itu membawa si gelandangan itu terbang ke tempat yang aman.

Dari kejauhan, sambil meratapi kaki saya yang gosong, saya lihat malaikat itu terbang menggendong si gelandangan yang masih saja tidur. Sial, sebuah bola api mengenai malaikat itu tepat di salah satu sayapnya.

Terbangnya pun jadi oleng dan hampir menabrak sebuah bangunan pencakar langit. Tapi, barangkali karena jam terbangnya sudah tinggi, malaikat itu bisa bermanuver gesit dan menghindari kecelakaan. Lalu dia terbang ke sebuah bangunan lain dan memindahkan si gelandangan itu ke tempat tinggi yang lebih aman.

 

Barangkali karena luka di sayapnya terlalu parah (saya lihat sayap malaikat itu terbakar, mirip kaki saya), malaikat itu langsung tergeletak begitu rampung menyelamatkan si gelandangan. Dia jatuh begitu saja lalu diam. Saya nggak tahu dia pingsan atau mati. (Eh, malaikat bisa mati juga nggak sih?).

Tak lama, si gelandangan itu bangun. Begitu membuka mata dan melihat ada malaikat tersungkur di dekatnya dengan sayap yang sudah hancur, saya pikir gelandangan itu akan membantunya.

Eh, dugaan saya salah besar. Si gelandangan itu cuma mengutik-utik sedikit tubuh si malaikat itu, mungkin untuk memastikan apakah malaikat itu masih bisa bergerak atau tidak; itupun dilakukan dengan kakinya.

Dan hal berikutnya yang saya lihat adalah: gelandangan itu menendang tubuh si malaikat, dan membiarkannya melayang jatuh tanpa tenaga ke bawah.

 

Saya tidak tahu pasti apa yang terjadi berikutnya; sepertinya saya sendiri juga pingsan. Tapi samar-samar saya melihat seorang wanita dan seorang pria muda muncul entah dari mana, melayang (iya, melayang!) dan menangkap tubuh si malaikat, lalu membawanya pergi entah ke mana.

 

Sudah, saya nggak ingat lagi.

Yang jelas, itu cerita saya melihat malaikat. Iya, melihatnya dalam mimpi saya semalam; di hari yang katanya hari kiamat itu.

Sudah ah, saya mau tidur lagi aja.

 

Yogyakarta, 21 Desember 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s