searching for the extra from the ordinary

Things I Love are Things I Fear

Suka naik gunung tapi takut memanjat?

Bagaiman mau berkebun kalau takut ulat?

Takut keramaian, kok suka memotret panggung?

 

Ah, itu pertanyaan lama yang sudah terlalu sering saya tanyakan pada diri saya sendiri, dan hanya sedikit teman yang tahu. Mereka yang tahu pun, biasanya baru sadar setelah melihat saya tiba-tiba panik, cemas, atau bahkan lemas saat menemui hal-hal yang bagi saya menakutkan.

Yes, those things I fear the most are the things that I could easily find in my favorite places or activities.

Jadi akhirnya saya putuskan untuk sedikit bercerita tentang beberapa hal yang saya takuti, dan mungkin sedikit tentang cara saya menghadapinya—terlepas dari apakah akhirnya saya berhasil menghilangkan ketakutan itu sendiri atau tidak.

Phobia—menurut kamus, kata ini didefinisikan sebagai ‘an anxiety disorder characterized by extreme and irrational fear of simple things or social situations.’ Kenapa takut? Ya karena takut—pokoknya takut. Dan sialnya (atau justru untungnya?), seperti saya bilang tadi, hal-hal yang saya takuti itu justru paling mudah ditemui di tempat-tempat atau dalam aktivitas yang saya sukai.

 

seperti inilah tampang saya saat climacophobia kumat di jalur menuju Puncak Garuda, Gn. Merapi

seperti inilah tampang saya saat climacophobia kumat di jalur menuju Puncak Garuda, Gn. Merapi

Climacophobia

Phobia yang ini dianggap sebagai salah satu jenis phobia yang tidak biasa. Climacophobia sedikit banyak terkiat dengan acrophobia—ketakutan terhadap ketinggian—dan bathmophobia—ketakutan terhadap tangga/tanjakan. Bedanya terletak pada fokus ketakutannya; pengidap acrophobia takut berada di tempat tinggi, terlepas dari bagaimana ia bisa berada di tempat itu. Pengidap bathmophobia takut saat melihat tangga/tanjakan, terlepas dari apakah ia akhirnya benar-benar menapaki tangga/tanjakan itu sendiri. Nah, pengidap climacophobia lebih takut pada aktivitas memanjatnya itu sendiri—entah menapaki tangga, memanjat tebing, dan sebagainya.

Dulu awalnya saya kira saya takut ketinggian. Tetapi, beberapa kali saya berada di tempat yang tinggi (misalnya di lereng gunung atau di gedung tinggi) dan ternyata saya baik-baik saja. Takut jatuh sih iya, tapi saya tidak pernah sampai merasa panik atau cemas.

Kalau dibilang phobia ini mengganggu, ya mengganggu, terutama saat naik gunung. Hmm, well, I spend too many times working on my computer, so hiking mountain has been my favorite getaway.

Biasanya, saat pendakian malam, saya selalu berjalan sambil menunduk dan hanya memperhatikan langkah kaki saya saja. Saya bisa tiba-tiba muring-muring kalau teman yang di depan mengarahkan senter pada saya. Bukan kenapa-kenapa; kalau jalurnya terang, saya jadi ingat bahwa saya sedang berada di jalur tanjakan, dan nantinya saat harus memanjat, saya bisa langsung lemas.

Waktu mendaki Gunung Merapi tahun lalu, setengah pendakian kami habiskan melalui jalur lumut yang tidak terlalu menanjak, jadi saya bisa mencapai Pasar Bubrah dalam keadaan segar bugar (walau ngos-ngosan).  Paginya, melihat jalur dari Pasar Bubrah menuju puncak yang mau tidak mau harus dilalui dengan jalan memanjat, sebenarnya saya sudah parno duluan. Tapi karena penasaran, akhirnya saya nekat naik.

Di tengah jalur, yang mana saya lewati dengan pose macam cicak—nemplok di tebing dan merayap dengan dua kaki plus dua tangan—mulai lah kaki saya gemetar. Apalagi, ada sekelompok pendaki lain yang memanjat agak brangasan dan membuat banyak batu sebesar kepala orang pun beterbangan (saya nggak melebih-lebihkan, banyak batu yang memang seakan terbang, nggak cuma menggelinding. Duh!).

Walhasil, saya tertahan di satu titik, bersembunyi di bawah lindungan sebuah batu besar, tanpa bisa bergerak sama sekali. Kaki saya terlalu gemetar untuk bisa naik ataupun turun. Akhirnya, saya menghabiskan waktu hampir setengah jam di sana, menangis dan ngomel nggak jelas, sementara pacar saya (uhuk!) dan adik saya berusaha membesarkan hati saya. Memang, puncak tinggal sedikit lagi, paling lama lima belas menit. Tapi akhirnya saya lebih memilih untuk turun saja karena kepala saya mulai terasa berputar dan pandangan kabur (ini tanda-tanda vertigo mulai menyerang).

Di pendakian berikutnya pun, setengah tahun setelah itu, saya hanya mau sampai Pasar Bubrah saja—melihat kembali jalur dari Pasar Bubrah ke puncak, it’s still a big NO!

Hal yang sama juga terjadi waktu saya mendaki Gunung Rinjani. Saya keki berat saat melewati jalur yang disebut Bukit Penderitaan (ada juga yang menyebutnya Bukit Penyiksaan atau Bukit Penyesalan), pasalnya jalur bukit itu sangat curam sehingga saya pun melancarkan aksi cicak lagi. Apalagi, pendakian hanya dilakukan saat hari terang saja, sehingga keseluruhan jalur di depan mata bisa terlihat dengan jelas. Untungnya, di Rinjani ini vertigo tidak sempat menyerang.

Kadang, saat akan mendaki gunung, saya merasa khawatir kalau-kalau phobia ini akan muncul dan menyebabkan vertigo. Apalagi, saya mengidap darah rendah, yang membuat resiko vertigo semakin besar. Tapi ya sudahlah, the mountain is just too attractive to be despised for this phobia, or this vertigo.

 

Demophobia

Demophobia didefinisikan sebagai ketakutan terhadap keramaian. Dalam kasus saya, hampir semua jenis keramaian—pasar, festival atau pertunjukan, bahkan warung makan yang ramai—semakin ramai, saya semakin takut. Ketakutan ini kemungkinan besar berasal dari pengalaman masa kecil saya, karena saya pernah ‘hilang’ di tengah keramaian pasar akibat bandel dan malah berkeliaran sendiri. Waktu itu, saya hanya bisa menangis heboh (maklum, masih kecil) sampai Bapak Ibu saya menemukan saya. Sepanjang perjalanan dari pasar sampai rumah pun saya masih nangis, walau sudah dibujuk dengan segala jenis jajanan pasar yang biasanya membuat saya kalap, hhehe..

Secara umum, phobia ini tidak terlalu mengganggu; simptom yang paling sering muncul saat ketakutan saya merebak adalah panik dan cemas, yang biasanya ditandai dengan saya tidak bisa berhenti menoleh ke segala arah dan kehilangan fokus karena merasa tidak aman. Biasanya juga saya jadi mudah marah (walaupun memang dasarnya saya galak, hhaha) dan perilaku saya jadi serba tidak tenang. Masalahnya, saya adalah penggemar dan cukup aktif di fotografi panggung, sementara panggung hampir selalu penuh dengan keramaian. Kalau yang saya dokumentasikan adalah pentas tari atau teater, yang keramaiannya bisa dikatakan lebih “teratur”, paling banter saya akan merasa tidak tenang dan dag-dig-dug sepanjang acara.

Yang paling parah adalah saat bertugas sebagai official photographer di konser musik VOTE di Alun-alun Kidul Yogyakarta, pertengahan tahun 2012 yang lalu. Namanya pentas musik, apalagi yang tampil adalah band-band ternama di Indonesia, area pertunjukan penuh sesak; media pit pun penuh dengan orang-orang berkamera (terlepas dari peraturan bahwa hanya official photographer dan wartawan saja yang boleh berada di dalam batas media pit). Di tengah acara, saya mulai merasa hilang keseimbangan (nah, vertigo datang lagi!) dan sedikit mual. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya pun undur diri sebentar dan saya bertukar tugas dengan seorang rekan yang tadinya bertugas di backstage.

Selamat dari serangan panik dan cemas, di akhir acara saya harus kembali menghadapi gejala lain. Bintang utama konser tersebut adalah Slank, yang sudah diketahui memiliki massa dalam jumlah gila-gilaan. Saya juga tidak tahu bagaimana caranya, tetapi media pit tiba-tiba saja sudah penuh dan tidak ada ruang untuk bergerak bebas. Tambah lagi, para petugas kepolisian juga ikut mengisi media pit demi menjaga keamanan, mmembuat area yang sempit itu jadi semakin sempit.

Mengingat tugas, saya memaksakan diri untuk mengambil beberapa gambar, walau sambil menahan vertigo dan mual yang sedari tadi menyerang. Beberapa jepretan, saya tidak tahan lagi, dan akhirnya kabur mencari toilet umum terdekat. I eventually threw up there. Untungnya sudah ada beberapa foto yang saya ambil, sehingga akhirnya teman-teman yang lain meminta saya tinggal di backstage saja untuk menenangkan diri (dan menenangkan perut).

 

Enthomophobia

Nah, kalau yang ini, saya juga agak nggak yakin apa istilahnya. Saya takut banget sama ulat, dan ini dikategorikan sebagai entomophobia atau ketakutan terhadap serangga. Saya takut ulat, dari ulat sayur yang kata orang imut-imut sampai ulat bulu. Kalau melihat ulat bulu di depan langkah, saya bisa langsung njranthal dan ngibrit sejauh-jauhnya.

Pernah suatu kali teman saya menakut-nakuti saya dengan mengulurkan ulat bulu ke dekat saya. Mungkin maksudnya mau melatih saya supaya tidak terlalu takut sih. Eh, hasilnya, saya langsung lari, jongkok, terus nangis. Payah deh.

Selain ulat, saya juga takut kupu-kupu. Mungkin karena saya berpikir bahwa kupu-kupu juga asalnya dari ulat. Sudah sering saya ditertawai teman-teman lantaran langsung tiarap setiap kali ada kupu-kupu terbang di dekat saya. Mau orang bilang kupu-kupu itu cantik atau apa, buat saya tetap mengerikan!

Ketakutan yang satu ini memang tidak sampai mengakibatkan vertigo atau gejala fisik lain seperti climacophobia atau demophobia yang saya derita, tetapi cukup mengganggu saat saya sedang melakukan salah satu hobi saya—berkebun (ahem, biar kata kelakuan jauh dari cewek pada umumnya, saya juga suka menanam bebungaan dong). Selain langsung lari sampai nabrak orang atau apa saja yang ada di dekat saya, biasanya juga saya masih akan parno hingga beberapa jam setelah melihat ulat atau kupu-kupu. Paling parah, biasanya badan saya, terutama leher, akan tiba-tiba gatal sendiri seperti habis terkena ulat, walaupun kenyataannya saya sama sekali tidak bersentuhan dengan ulat itu.

Pernah juga saya sedang memindahkan bunga dari satu pot ke pot yang baru, dan langsung kaget karena ternyata di daunnya ada ulat. Pot langsung terlempar dari tangan, dan pecah berantakan. Untung tanamannya tidak rusak, huh.

Seperti climacophobia, saya juga sampai sekarang belum tahu kenapa saya takut banget sama ulat. Dan sampai sekarang saya belum bisa berusaha menekan ketakutan ini—boro-boro disuruh pegang ulat, ada yang nunjukin ulat di kejauhan saja bisa-bisa langsung saya gampar.

 

 

That’s it. Kadang saya juga sebel sendiri—kenapa sih di gunung harus memanjat, kenapa sih di kebun harus ada ulat, kenapa sih panggung harus ramai. Tapi, daripada ngomel nggak jelas juntrungannya, mungkin lebih baik saya terima saja keadaannya dan berusaha untuk tetap fokus—walau kadang susah. If any of you have some tips to overcome these phobias, I would be more than glad to let you tell me J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s